Bantentv.com – Optimisme pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan mencapai 6,2% pada tahun 2026 disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya mengaku mampu mendorong pertumbuhan ekonomi tersebut, tanpa memberikan gangguan pada kestabilan baik di sisi fiskal maupun moneter.
Ia juga melihat komponen inflasi inti yang masih rendah, dapat membuka ruang bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat tanpa khawatir memicu respons pengetatan kebijakan dari bank sentral.
Baca Juga: BEI Minta Insentif, Purbaya Bakal Bereskan Saham Gorengan
“Inflasi inti kita masih 2,3% Kalau kita keluarkan harga emas Inflasi sekitar 1,5% Jadi sebetulnya permintaan-nya masih relatif rendah belum ada permintaan inflasi penuh artinya saya bisa mendorong ketinggian ekonomi yang lebih cepat lagi,” ujar Purbaya di Thamrin Nine Ballroom, Selasa 27 Januari 2026.
Purbaya mengatakan, Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada di level 6,2%. Untuk itu dia yakin dapat memacu perekonomian tanpa gangguan seperti perlambatan akibat kenaikan suku bunga atau pengetatan moneter lainnya.

“Bank sentral mengakui sekarang bisa 6,2% potensi tingkat pertumbuhan nya dia ngomong seperti itu, untuk saya sih oke, gue bisa mendorong ke 6,2% tanpa ada gangguan yang berarti dalam hal Perlambatan ekonomi karena Suku bunga yang terisi atau Kebanyakan moneter yang lain,” ujarnya.
Lebih lanjut, Purbaya pun menyoroti tren pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mulai konsisten menembus level 5% pada beberapa periode terakhir. Seperti pada triwulan keempat tahun 2025 dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,45%.
Nantinya, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 6%. Jika target tersebut tercapai, Indonesia akan dinilai berhasil keluar dari “kutukan” pertumbuhan 5%.
“Kalau 5,45 tahun lalu triwulan keempat dan triwulan pertama 2026 bisa 5,5, kita sudah keluar dari jebakan 5% saya akan dorong terus ekonomi tahun ini ke arah 6% dengan berbagai cara. Kalau terjadi maka Kita sudah mengalami Break out dari kutukan 5% dan bisa tumbuh ekonomi yang lebih cepat lagi,” tutupnya.
Editor Siti Anisatusshalihah