Bantentv.com – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah yang belum membantu memicu krisis global, terutama pada jalur strategi Selat Hormuz. Jalur vital perdagangan energi dunia tersebut kini disebut sebagai salah satu gangguan pasokan paling serius dalam sejarah pasar energi global.
Tidak hanya mengancam pasokan minyak, gangguan di Selat Hormuz juga memicu efek domino terhadap rantai pasok global, mulai dari sektor pangan hingga teknologi tinggi.
Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF), Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, menyebut kondisi saat ini sebagai situasi luar biasa.
Baca Juga: Lewati Selat Hormuz Kini Berbayar, Iran Patok Tarif Hingga 2 Juta Dolar per Kapal
“Krisis pengapalan di Selat Hormuz saat ini adalah gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” ujar Birol, Minggu 5 April 2026.
Setiap hari, sekitar 11 juta barel minyak dan 140 miliar meter kubik gas melewati Selat Hormuz. Namun dampaknya kini meluas ke berbagai komoditas penting dunia.
Dilaporkan dari CNBC, berikut sembilan komoditas global yang ikut menimbulkan konflik di Selat Hormuz.
1.Pupuk
Kawasan Teluk Arab menyumbangkan sekitar 20 persen ekspor pupuk dunia melalui jalur laut. Gangguan pasokan berpotensi meningkatkan harga pangan global.
Pasokan ini sangat penting bagi negara pertanian besar seperti India, Brasil, dan China.
2. Belerang
Sulfur merupakan bahan penting dalam industri pupuk dan baterai kendaraan listrik. Hampir setengah perdagangan belerang dunia melewati Selat Hormuz.
Kelangkaan sulfur dapat memperlambat industri manufaktur global, termasuk sektor baterai kendaraan listrik.
3. Metanol
Sekitarnya perdagangan metanol dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan pasokan dapat memicu kenaikan harga plastik, cat, dan bahan kimia.
China menjadi salah satu negara yang paling terdampak karena menjadi pembeli metanol terbesar global.
4. Bahan Baku Grafit
Grafit digunakan dalam baterai kendaraan listrik. Gangguan pasokan minyak dapat memicu kenaikan harga bahan baku grafit secara global.
Hal ini berpotensi meningkatkan biaya produksi kendaraan listrik.
5. Aluminium
Timur Tengah merupakan pemasok 9 persen produksi aluminium dunia. Gangguan pasokan dapat berdampak pada industri konstruksi dan energi terbarukan.
Lebih dari 150.000 ton aluminium dilaporkan telah ditarik dari gudang perdagangan global.
6.Helium
Qatar mencakup hampir seluruh helium dunia. Kelangkaan helium dapat mengganggu industri semikonduktor dan layanan kesehatan.
Mesin MRI di rumah sakit sangat bergantung pada pasokan helium cair.
7. Glikol (MEG)
Monoetilen glikol merupakan bahan utama poliester dan kemasan plastik. Negara-negara Asia seperti China, India, dan Indonesia berpotensi terdampak.
Gangguan pasokan diprediksi akan meningkatkan harga produk tekstil dan kemasan.
8. Bijih Besi dan Baja
Pengiriman besi dari kawasan Teluk mulai terganggu. Industri baja global menghadapi biaya logistik.
Pembeli di Asia mulai menunda pembelian karena penutupan pengiriman.
9. Infrastruktur Hidrogen Hijau
Timur Tengah selama ini diproyeksikan sebagai pusat energi hidrogen hijau dunia. Konflik berkepanjangan dapat memperlambat proyek energi bersih global.
Baca Juga: Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Daftar Negara yang Tetap Diizinkan Melintas
Menurut laporan World Economic Forum 2026, konflik geoekonomi kini menjadi faktor utama kebijakan ekonomi global.
Krisis di Selat Hormuz menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah tidak hanya berdampak regional, tetapi juga global. Gangguan rantai pasok ini berpotensi memicu inflasi dan memperlambat perekonomian di berbagai negara.
Editor AF Setiawan