Bantentv.com – Di era digital yang semakin canggih, perusahaan penagih utang di Amerika Serikat (AS) mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau kecerdasan buatan (AI) berbentuk chatbot suara untuk menghubungi nasabah yang memiliki tunggakan pembayaran.
Jika sebelumnya pengumpulan dilakukan oleh manusia, kini peran tersebut mulai digantikan oleh sistem AI yang mampu melakukan percakapan layaknya manusia. Laporan Wired menyebutkan, bot AI ini dapat menagih pembayaran hingga menawarkan berbagai opsi pelunasan secara otomatis.
Salah satu contohnya adalah bot bernama “Eve” yang menelepon seorang pria bernama samaran Ben terkait tunggakan sewa rumah sebesar 266 dolar AS atau sekitar Rp4,7 juta.
Baca Juga: Tarik Paksa Mobil, Debt Collector Tusuk Pemilik Hingga Dirawat
Meski Ben mengaku telah melunasi tagihan tersebut, Eve tetap menawarkan metode pembayaran sebelum akhirnya mengalihkan panggilan ke petugas manusia setelah percakapan berlangsung.
Menurut laporan tersebut, bot AI debt collector ini mampu berbicara secara natural dan menyesuaikan gaya komunikasi dengan lawan bicara. Pengembang mengatur bahkan aksen, intonasi, hingga gaya bahasa berdasarkan profil pengguna, termasuk perbedaan aksen untuk wilayah tertentu seperti Meksiko dan Kolombia.
Sistem ini juga diklaim mampu mendeteksi kondisi sensitif seperti kebangkrutan, sakit, hingga kematian anggota keluarga, sehingga percakapan dapat dialihkan ke petugas manusia.
Menariknya, bot AI dinilai lebih sopan, stabil, dan tidak mudah emosi dibandingkan penagih hutang manusia. Teknologi ini juga dapat bekerja 24 jam nonstop tanpa lelah, sehingga dinilai lebih efisien oleh sebagian perusahaan.
Bahkan, sebagian nasabah disebut lebih nyaman berkomunikasi dengan AI karena dianggap mengurangi rasa perselisihan dalam urusan finansial.
Namun demikian, penggunaan AI dalam pengumpulan utang juga menimbulkan kekhawatiran.
Direktur hukum organisasi advokasi New Economy Project, Susan Shin, menilai teknologi ini berpotensi meningkatkan intensitas pengumpulan secara masif karena satu sistem AI dapat menghubungi ribuan orang sekaligus.
Selain itu, risiko kesalahan sistem seperti salah sasaran atau kebocoran data juga menjadi perhatian.
Fenomena ini diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kredit macet di AS. Laporan Kaplan Group Menyebutkan industri AI untuk debt collector bernilai hampir 16 miliar dolar AS dalam satu dekade ke depan.
Sejumlah startup seperti Altur dan Domu bahkan telah mengembangkan layanan pengumpulan otomatis berbasis AI yang mampu menangani jutaan panggilan setiap bulannya.
Editor : Erina Faiha