Bantentv.com – Paris Saint-Germain (PSG) kembali menegaskan statusnya sebagai salah satu kekuatan terbesar di sepak bola Eropa. Setelah menjuarai Liga Champions musim 2024/2025, Les Parisiens sukses mempertahankan gelar pada musim 2025/2026 usai mengalahkan Arsenal lewat drama adu penalti di final yang berlangsung di Puskas Arena, Budapest, Minggu 31 Mei 2026.
Keberhasilan tersebut membuat PSG meraih gelar Liga Champions secara beruntun dalam dua musim terakhir.
Capaian ini memunculkan satu pertanyaan besar: apakah PSG sedang memasuki era keemasan mereka di panggung Eropa?
Pada final musim ini, PSG harus bekerja keras menghadapi perlawanan Arsenal.
Baca Juga: Arsenal Gagal Cetak Sejarah, PSG Juara Liga Lewat Adu Penalti
Sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Kai Havertz, wakil Prancis itu bangkit melalui penalti gol Ousmane Dembele sebelum akhirnya memastikan kemenangan lewat adu penalti.
Gelar kedua secara beruntun ini menjadi bukti bahwa kesuksesan PSG bukan lagi sekedar kebetulan atau hasil dari satu musim yang luar biasa.
Dalam satu dekade terakhir, PSG dikenal sebagai klub yang gemar mengumpulkan pemain bintang dunia.
Nama-nama seperti Zlatan Ibrahimovic, Neymar, Lionel Messi hingga Kylian Mbappe pernah menjadi bagian dari proyek ambisius klub asal Paris tersebut.
Namun ironisnya, gelar Liga Champions baru saja datang ketika PSG mulai mengandalkan kekuatan kolektif dibandingkan ketergantungan pada satu atau dua superstar.
Di bawah Arah Luis Enrique, PSG berkembang menjadi tim yang lebih seimbang. Mereka memiliki lini serang tajam, lini tengah kreatif, serta pertahanan yang solid.
Pemain seperti Ousmane Dembele, Khvicha Kvaratskhelia, Vitinha, Joao Neves, Achraf Hakimi hingga Marquinhos menjadi fondasi utama kesuksesan klub.
Peran Luis Enrique tak bisa dilepaskan dari keberhasilan PSG.
Baca Juga: PSG vs Arsenal Masih Imbang 1-1, Final Liga Champions Berlanjut ke Adu Penalti
Pelatih asal Spanyol tersebut berhasil membangun identitas permainan yang jelas. Les Parisiens kini tidak hanya mengandalkan kualitas individu, tetapi juga tim organisasi yang kuat.
Di final, mentalitas juara PSG kembali terlihat saat mampu bangkit setelah tertinggal lebih dulu dari Arsenal.