Bantentv.com – Beras sebelum dimasak, biasanya dicuci terlebih dahulu. Selain karena perbedaan dari kotoran atau debu tertentu, mencuci beras juga memberi dampak yang baik bagi proses memasaknya sendiri.
Mencuci beras sebelum dimasak tersebut juga sudah menjadi kebiasaan di banyak rumah tangga di Indonesia. Jika tidak dicuci, rasanya seperti ada yang kurang kalau beras langsung dimasak tanpa dibilas dulu.
Apalagi banyak juga yang punya aturan sendiri di rumah, misal harus tiga kali, lima kali, atau dicuci sampai airnya benar-benar bening.
Namun apakah cara itu memang paling tepat? Pertanyaan ini sering kali muncul di benak kita, apalagi saat melihat air cucian beras yang masih keruh. Banyak orang merasa semakin sering beras dicuci, semakin bersih dan sehat hasilnya.
Mengutip dari media nasional, sebenarnya tidak ada angka baku yang menyebut beras harus dicuci sekian kali. Terlebih lagi, mencuci beras terlalu sering juga tidak selalu lebih baik.
Beras memang boleh dicuci, tujuannya untuk membersihkan debu, kotoran ringan, serta sisa pati (kanji) di permukaan agar nasi tidak terlalu lengket. Namun, pembilasan sebenarnya cukup dilakukan 1 sampai 2 kali saja.
Metode mencuci beras dapat mengurangi sebagian residu di permukaan, termasuk pestisida dalam jumlah kecil.
Tapi di saat yang sama, proses ini juga ikut menghilangkan mineral penting seperti magnesium, kalium, dan fosfor. Kesimpulannya semakin sering beras dicuci, bukan hanya kotoran yang hilang, tetapi juga sebagian zat gizi ikut berkurang.
Tidak sedikit orang mencuci beras dengan jumlah yang sering hingga benar-benar bening atau jernihs empurna. Padahal air yang keruh saat mencuci beras tersebut sebagian besar berasal dari pati alami beras itu sendiri.
Baca Juga: Sering Dilakukan, 3 Kebiasaan Ini Bisa Jadi Penyebab Perut Buncit
Jika seluruh permukaan permukaan terus dibuang, nasi justru bisa kehilangan tekstur dan sebagian nilai gizinya.
Penting untuk diketahui dan dipraktikan, cukup bilas sampai air terlihat lebih jernih. Tidak perlu sampai benar-benar bening ya.
Jika tujuan mencuci beras adalah mengurangi zat berbahaya seperti arsenik, hasilnya juga tidak terlalu besar. Menurut Food and Drug Administration (FDA), membilas beras sebelum dimasak hanya memberi efek minimal terhadap kadar arsenik pada nasi matang.
Kemudian cara yang lebih efektif untuk dapat menurunkan arsenik adalah memasak beras dengan udara berlebih, lalu membuang sisa airnya. Cara ini dapat menurunkan arsenik sekitar 40 sampai 60 persen.
Tapi ada konsekuensinya, cara ini juga akan dapat mengurangi kandungan nutrisi penting seperti folat, zat besi, niasin, dan tiamin hingga 50 sampai 70 persen. Sehingga ada konsekuensi yang harus dipertimbangkan antara upaya menurunkan arsenik dan hilangnya sebagian zat gizi.
Beras fortifikasi justru sebaiknya tidak dicuci
Ada hal lain yang perlu kita ketahui juga yaitu tidak semua beras boleh dicuci. Beras fortifikasi atau beras yang diperkaya, yang sudah diperkaya vitamin dan mineral, mencuci beras justru bisa menghilangkan nutrisi tambahan tersebut.
Berikut panduan sederhana mencuci beras yang bisa diikuti di rumah:
- Beras biasa
Untuk beras biasa ini cukup bilas 1-2 kali untuk membersihkan permukaannya saja. Tidak harus sampai air benar-benar bening.
- Beras fortifikasi atau beras yang diperkaya
Ikuti petunjuk pada kemasan. Jika disarankan tidak dicuci, sebaiknya tidka perlu untuk dibilas.
- Jika ingin mengurangi arsenik
Bisa menggunakan metode memasak dengan udara berlebih, tetapi pahami bahwa cara ini juga bisa mengurangi kandungan nutrisi.
Ingat, mencuci beras itu bukan soal harus berapa kali, melainkan soal memahami tujuan dan dampaknya. Mencuci beras memang baik untuk kebersihan dan bisa membantu memperbaiki tekstur nasi.
Namun jika dilakukan secara berlebihan, manfaatnya tidak selalu lebih besar, bahkan bisa mengurangi kandungan gizi yang sebenarnya dibutuhkan.
Editor Lilik HN