Bantentv.com – Akhir-akhir ini kasus penyakit Hantavirus menjadi sorotan publik. Pasca adanya laporan tiga kematian penumpang dan sejumlah kasus positif di kapal pesiar MV Hondius infeksi akibat virus langka itu.
Tak hanya di dunia, Hantavirus juga menyebar di Indonesia. Dikutip dari berbagai sumber, Hantavirus dikenal sangat berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit pernapasan akut (HPS) atau gagal ginjal (HFRS) dengan angka fatalitas tinggi (hingga 50% pada tipe tertentu).
Virus ini menular melalui urin/kotoran tikus, menyebabkan gejala mirip flu (demam, nyeri otot) yang cepat memburuk menjadi sesak napas berat atau syok, hingga memerlukan penanganan medis segera.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan potensi bertambahnya kasus Hantavirus di seluruh dunia terutama jika pengendalian kesehatan masyarakat tidak dilakukan secara ketat.
Diketahui Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat, seperti tikus dan kelelawar. Di dunia terdapat lebih dari 40 spesies hantavirus yang dapat menyebabkan penyakit parah pada manusia.
Virus ini secara umum sebenanarnya trelah dipecah menjadi virus “Dunia Lama” (Eropa, Asia, Afrika) yang menyebabkan Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS), dan virus “Dunia Baru” (Amerika) yang menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).
Ada Penumpang MV Hondius Tinggal di Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengungkap adanya satu penumpang kapal pesiar MV Hondius, di mana hantavirus pertama kali menyebar.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes dr. Andi Saguni mengatakan, Kementerian Kesehatan telah melakukan kewaspadaan setelah menerima notifikasi dari International Health Regulation National Focal Point (IHR NFP) Inggris terkait satu warga negara asing (WNA) berinisial KE yang berdomisili di Jakarta.
WNA tersebut merupakan kontak erat kasus positif hantavirus di kapal pesiar MV Hondius.
Kemenkes langsung melakukan penyelidikan epidemiologi sehari setelah notifikasi diterima. Kemudian penyelidikan itu menghasilkan WNA tersebut tidak menunjukkan gejala virus hanta.
Pemeriksaan PCR dari lima spesimen juga telah dilakukan yakni serum, urin, air liur, usap tenggorok, dan darah lengkap, hasilnya menunjukkan hasil negatif.
Kasus Hantavirus di Indonesia
Di Indonesia sendiri Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 23 kasus hantavirus yang terkonfirmasi sejak 2024 hingga 2026 minggu ke-16. Dari 23 kasus itu, sedikitnya 20 pasien sembuh dan 3 orang meninggal dunia.
Kasus Hantavirus di Indonesia ini tersebar di sejumlah wilayah seperti 6 kasus di Jakarta, Yogyakarta 6 kasus, 5 di Jawa Barat, 1 di Jawa Timur, 1 di Banten, 1 di Sumatra Barat, 1 di NTT, 1 di Sulawesi Utara, 1 di Kalimantan Barat, dan 1 di Jawa Timur.
Kemudian, di Indonesia terdapat 23 kasus hantavirus yang terdeteksi memiliki tipe Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS). Adapun gejalanya seperti demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, dan badan menguning.
Kasus Hantavirus yang ditemukan tersebut memberikan pelajaran bagi kita akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Hindari kontak langsung dengan air liur ayau kotoran hewan pengerat seperti tikus dan kelelawar. Waspadai dan cegah sejak dini munculnya virus tersebut.
Editor Lilik HN