Serang, Bantentv.com – Laju pertumbuhan Provinsi Banten sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang semakin positif. Pada Triwulan III tahun 2025, pertumbuhan ekonomi daerah ini tercatat mencapai 5,29 persen (YoY).
Angka tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,04 persen dan juga melampaui rata-rata wilayah Jawa yang berada di angka 5,17 persen. Capaian ini menjadi sinyal bahwa fondasi perekonomian Banten tetap kokoh meski dinamika global masih berlangsung.
Informasi tersebut dipaparkan dalam Forum Ekonomi Banten 2025 yang digelar Bank Indonesia (BI) Perwakilan Banten di Aston Serang pada Selasa, 9 Desember 2025.
Selain membahas kinerja terkini, forum ini juga menjadi apresiasi bagi mitra strategis yang berperan dalam penguatan sektor ekonomi daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Ameriza M Moesa, menyampaikan bahwa Banten masih menempati posisi yang kuat sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa.
Menurutnya, daya tahan perekonomian daerah ini tidak lepas dari tingginya realisasi investasi, terutama pada proyek industri dan infrastruktur berskala besar.
Hingga September 2025, nilai investasi mencapai Rp91,5 triliun atau sekitar 142 persen dari target RKPD, menjadikan Banten berada pada peringkat keempat nasional dalam realisasi investasi.
Ameriza juga menyoroti kuatnya konsumsi rumah tangga serta kinerja ekspor komoditas unggulan, seperti baja dan bahan kimia.

Pada saat yang sama, sektor pertanian yang sempat ditekan menunjukkan pemulihan yang signifikan berkat peningkatan produktivitas lahan di wilayah Pandeglang dan Lebak.
Ia menambahkan bahwa tren pertumbuhan ini diperkirakan berlanjut pada tahun 2026, dengan perkiraan berada pada kisaran 4,90 hingga 5,70 persen.
Meski demikian, pemerintah menilai masih terdapat hambatan terkait kontribusi antara wilayah Utara dan Selatan. Kawasan Utara yang meliputi Tangerang Raya, Cilegon, dan Serang masih mendominasi aktivitas ekonomi hingga 91,5 persen, sementara bagian Selatan mencapai 8,5 persen.
Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Banten, Budi Santoso, melihat kondisi ini bukan sebagai hambatan, melainkan peluang besar. Ia menggunakan analogi peta untuk menggambarkan potensi tersebut.
“Kalau kita lihat di Google Maps, peta Banten antara atas dan bawah memang kontras. Di atas (Utara) berwarna putih atau abu-abu padat industri, di bawah (Selatan) berwarna hijau asri. Inilah potensi yang akan kita garap bersama,” ujar Budi optimis.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Banten Triwulan II 2025 Tembus 5,33 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional
Budi menegaskan bahwa “warna hijau” di Selatan merupakan peluang investasi masa depan, khususnya di sektor pertanian, pariwisata, dan industri ramah lingkungan.
Untuk membuka potensi Banten Selatan, Pemerintah Provinsi Banten bersama Pemerintah Pusat telah menyiapkan strategi jitu melalui pembangunan infrastruktur konektivitas.
Sinergitas sudah mulai tampak. Kuncinya ada tiga: infrastruktur, investasi, pertanian dan pariwisata. Pemerintah tengah merampungkan Tol Serang-Panimbang, reaktivasi Kereta Api Rangkasbitung-Labuan, dan pembangunan jalan desa,” jelas Budi.
Tak hanya itu, karpet merah bagi investor juga telah disiapkan di wilayah Selatan. Kawasan Industri Bojong di Pandeglang dan Kawasan Industri Cileles di Lebak dipersiapkan menjadi sentra ekonomi baru.
“Melalui kolaborasi pemerintah, investor, dan masyarakat, kami optimis disparitas ini akan kikis. Banten Selatan akan bangkit menjadi penopang ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya.
Editor Siti Anisatusshalihah