Bantentv.com – Pasca Lebaran Idulfitri menjadi harapan bagi perekonomian Indonesia yang tetap bertumbuh meski dalam situasi memanas global saat ini. Momentum pasca Lebaran juga menjadi peluang bagi sektor lain seperti emas yang masih menjadi pilihan para investor berinvestasi. Ditengah sektor saham yang masih bergerak fluktuatif, justru investor mengamati aset safe haven sebagai langkah perlindungan nilai.
Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya risiko global, mulai dari konflik geopolitik hingga arah kebijakan suku bunga yang belum pasti. Dengan kondisi tersebut, mendorong pergeseran preferensi investor ke instrumen yang lebih defensif, dengan emas menjadi pilihan utama.
“Dalam kondisi global yang meningkat, investor global cenderung mengalihkan sebagian portofolionya ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas atau obligasi pemerintah,” kata Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana yang dikutip dari Liputan6, Selasa 24 Maret 2026.
Menurutnya fase pasca Lebaran tahun ini berpotensi menjadi titik awal meningkatnya minat terhadap sektor emas, terutama di tengah cuaca yang belum mereda.
Baca Juga: Harga Emas Turun Lagi Setelah Sempat Stabil, Ini Penyebabnya
Hendra menjelaskan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta meredamnya harga energi menjadi faktor utama yang mendorong permintaan emas meningkat. Dalam situasi seperti ini, emas sering dipandang sebagai aset perlindungan nilai yang paling aman.
“Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, sektor tambang emas justru mulai mendapat perhatian lebih besar dari investor,” ujarnya.
Meski kondisi pasar belum stabil, namun sektor penambangan emas di Indonesia juga mulai mendapat perhatian lebih luas dari masyarakat internasional. Sejumlah emiten emas nasional pun kini masuk dalam indeks global, sehingga membuka peluang masuknya dana asing.
Salah satunya seperti saham Archi Indonesia, Amanah Gold Resources, dan J Resources Asia Pasifik ke dalam MVIS Global Junior Gold Miners Index menjadi katalis penting bagi sektor ini. Indeks tersebut juga menjadi acuan berbagai produk investasi global, termasuk ETF berbasis tambang emas.
“Hal ini terlihat dari masuknya saham tambang emas Indonesia seperti Archi Indonesia, Amanah Gold Resources, dan J Resources Asia Pasifik ke dalam MVIS Global Junior Gold Miners Index yang menjadi acuan berbagai produk investasi global,” ujarnya.
Menurut Hendra, peluang penguatan sektor emas pasca lebaran dinilai masih cukup besar, terutama jika lonjakan global belum mereda sampai saat ini. Dalam kondisi pasar saham yang masih cenderung volatil, emas dapat menjadi alternatif investasi yang lebih stabil.
Selain faktor global, sektor emas juga dipengaruhi oleh potensi ekspansi dari perusahaan tambang nasional. Ini menjadi angin segar bagi peningkatan produksi serta eksplorasi cadangan baru menjadi faktor pendukung pertumbuhan jangka panjang.
“Dari perspektif pasar modal, inklusi ini memberikan dua manfaat penting bagi sektor emas Indonesia.Pertama adalah meningkatkan visibilitas global terhadap perusahaan tambang emas nasional,” ujarnya.
Manfaat lainnya dari sektor emas adalah potensi masuknya arus dana pasif dan fund global yang menjadikan indeks di pasar modal sebagai acuan investasi.
“Manfaat kedua adalah potensi masuknya arus dana pasif atau passive inflow dari ETF dan fund global yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan investasi,” Hendra.
Editor Siti Anisatusshalihah