Bantentv.com – Ketidakpastian global saat ini membuat negara-negara di penjuru dunia mengerahkan kemampuan pengelolaan keuangannya agar dapat bertahan dengan kondisi ekonomi saat ini. Namun, sejumlah negara masih menanggung utang besar ke Dana Moneter Internasional (Dana Moneter Internasional/IMF).
Berdasarkan data terbaru per 13 Mei 2026 yang dikutip dari CNBC Indonesia, menunjukkan posisi kredit IMF yang masih beredar atau IMF Credit Outstanding mencapai SDR 121,32 miliar, atau setara dengan US$167,62 miliar (asumsi 1 SDR setara US$1,38).
Sebagai catatan, Special Drawing Rights (SDR) merupakan instrumen cadangan internasional yang diterbitkan IMF. Nilainya mengacu pada gabungan beberapa mata uang utama dunia, yakni dolar Amerika Serikat, euro, yuan Tiongkok, yen Jepang, dan pound sterling Inggris dengan bobot tertentu.
Oleh karena itu, nilai SDR terhadap dolar AS dapat berubah mengikuti dinamika pasar valuta asing global. Jika dihitung berdasarkan asumsi kurs rupiah di level Rp17.500/US$, maka total kredit IMF tersebut setara kurang lebih Rp2.933 triliun.
Baca Juga: Korupsi Kredit Sritex Rugikan Negara Rp692 Miliar
Jumlah negara ini masuk dalam 10 besar negara dengan jumlah utang IMF terbanyak pada tahun 2026.
Dari data tersebut, negara Argentina menduduki posisi pertama dan masih menjadi negara dengan utang IMF terbesar. Total kredit IMF yang masih beredar ke Argentina mencapai SDR 41,79 miliar atau setara sekitar US$57,74 miliar. Bila dirupiahkan, nilainya mencapai sekitar Rp1.010 triliun.
Posisi Argentina masih jauh di atas negara lain. Hal ini menunjukkan negara-negara tersebut masih menjadi salah satu pemberi pinjaman terbesar IMF, seiring tekanan ekonomi yang beberapa tahun terakhir kerap terjadi inflasi tinggi, tekanan nilai tukar, dan kebutuhan pembiayaan eksternal.
Sementara itu, Ukraina berada di posisi kedua dengan total utang IMF sebesar SDR 10,75 miliar, atau setara sekitar US$14,85 miliar.
Perlu diketahui, Ukraina masih menghadapi perang berkepanjangan dengan Rusia sejak Februari 2022, di mana kondisi tersebut membuat kebutuhan pembiayaan negara tetap besar, baik untuk menjaga stabilitas fiskal, perekonomian, maupun sistem keuangan domestik.
Di posisi ketiga ada Pakistan dengan utang IMF sebesar SDR 8,21 miliar atau sekitar US$11,34 miliar. Sementara Ekuador menyusul di posisi keempat dengan utang sebesar SDR 7,28 miliar atau sekitar US$10,06 miliar.
Berikutnya ada Mesir yang juga masih masuk peringkat lima besar dengan total utang IMF sebesar SDR 7,25 miliar, atau setara sekitar US$10,01 miliar. Sehingga dapat dikatakan bahwa tiga negara yakni Pakistan, Ekuador, dan Mesir sama-sama memiliki utang IMF di kisaran US$10 miliar hingga US$11 miliar.
10 Negara dengan Utang IMF Terbesar per 13 Mei 2026
| Negara | SDR nominalnya | Nominal US$ miliar |
|---|---|---|
| Argentina | 41.789.000.000 | 57.74 |
| Ukraina | 10.750.502.507 | 14.85 |
| Pakistan | 8.205.683.341 | 11.34 |
| Ekuador | 7.281.595.844 | 10.06 |
| Mesir | 7.245.182.524 | 10.01 |
| Pantai Gading | 3.603.438.776 | 4.98 |
| Bangladesh | 2.886.573.000 | 3,99 |
| Kenya | 2.873.418.234 | 3.97 |
| Ghana | 2.727.468.500 | 3.77 |
| Angola | 2.437.716.676 | 3.37 |
Sumber: IMFDapatkan datanyaDibuat dengan Datawrapper
Adapun sejumlah negara Afrika juga masuk dalam daftar 10 besar. Di antaranya Pantai Gading berada di posisi keenam dengan utang sekitar US$4,98 miliar, dan disusul Bangladesh diposisi ke tujuh sebesar US$3,99 miliar, sementara posisi delapan ada Kenya yang memiliki utang sebesar US$3,97 miliar, Ghana US$3,77 miliar di posisi sembilan, dan paling akhir di posisi sepuluh ada Angola dengan utang sebesar US$3,37 miliar.
Masuknya Bangladesh juga menambah daftar negara Asia yang masih memiliki ketergantungan pembiayaan pada lembaga tersebut. Komposisi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi global belum sepenuhnya mereda bagi banyak negara berkembang.
Selain itu, sejumlah negara tersebut juga masih menghadapi tantangan mulai dari defisit transaksi berjalan, pelemahan mata uang, tekanan inflasi, hingga kebutuhan pembiayaan fiskal yang besar.
Meski begitu, IMF sendiri berperan memberikan dukungan pendanaan kepada negara anggota untuk menjaga stabilitas ekonomi, menstabilkan nilai tukar, membantu kebutuhan neraca pembayaran, hingga mendukung implementasi reformasi struktural.
Keberadaan IMF sendiri bagi banyak negara sangat penting untuk menjadi penopang saat menghadapi tekanan ekonomi maupun gejolak pasar keuangan. Namun, besarnya utang juga membuat tidak adanya pembayaran dan pengelolaan fiskal menjadi tantangan utama bagi negara yang meminjamkan.
Sementara bagi IMF, kelancaran pengembalian pinjaman menjadi penting untuk menjaga kapasitas lembaga tersebut dalam memberikan dukungan pembiayaan kepada negara anggota lain ketika krisis terjadi.
Editor Siti Anisatusshalihah