Bantentv.com – Sebagai pengelola jaringan KFC di Indonesia, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) saat ini masih menghadapi tekanan berat khususnya sepanjang tahun 2025 lalu. Meski rugi berhasil ditekan, namun beban utang malah melonjak tajam di tengah penutupan puluhan tahun.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian 2025 yang dikutip CNBC, FAST membukukan rugi bersih sebesar Rp369 miliar, di mana hal tersebut meningkat dibandingkan rugi Rp798 miliar pada tahun sebelumnya. Meski begitu, perbaikan ini belum cukup untuk meningkatkan kinerja operasional ke zona positif.
Secara operasional, perusahaan ini masih mencatat kerugian usaha sebesar Rp311 miliar. Sementara itu, pendapatannya tercatat masih stagnan di kisaran Rp4,88 triliun.
Selain itu, tekanan juga datang dari struktur keuangan. Utang bank jangka panjang FAST melonjak drastis hingga mencapai Rp1,82 triliun pada tahun 2025, dari hanya sekitar Rp353 miliar pada tahun sebelumnya.
Dalam penjelasan kepada BEI, manajemen menyebutkan kenaikan total aset mencapai sekitar 40 persen setiap tahun, sedangkan total liabilitas meningkat sekitar 33 persen. Secara nominal, aset meningkat sekitar Rp 1,42 triliun dan liabilitas naik sekitar Rp 1,11 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.
“Grup melaporkan kerugian konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025 sebesar Rp 369 miliar dan akumulasi kerugian konsolidasian sebesar Rp 507 miliar pada tanggal tersebut,” tulis keterangan dari laporan FAST dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, 20 April 2026.
Baca Juga: Belasan Kios Pasar Labuan Terbakar, Kerugian Capai Rp300 Juta
Peningkatan ini sebagian besar berasal dari kontribusi entitas anak, yakni PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI), khususnya terkait pembangunan peternakan ayam terpadu yang sebagian besar dibiayai melalui utang bank.
Tak hanya itu, auditor juga menyoroti adanya materi terkait kelangsungan usaha (going concern). Hal ini tercermin dari posisi liabilitas jangka pendek yang melebihi aset lancar hingga Rp1,3 triliun, serta akumulasi kerugian yang telah menembus Rp507 miliar.
Di tengah tekanan yang sedang melanda perusahaan tersebut, FAST juga melakukan penyesuaian jaringan bisnis. Sedangkan jumlah gerai perusahaan ini tercatat menyusut menjadi 690 gerai pada akhir tahun 2025, dari 715 gerai pada tahun 2024, atau berkurang sekitar 25 gerai.
Di saat yang sama, justru FAST tetap agresif melakukan belanja modal. Arus kas untuk aktivitas investasi tercatat mencapai Rp1 triliun, sebagian besar digunakan untuk penambahan aset tetap dan rekonstruksi.
Sementara di sisi likuiditas, perusahaan ini masih mencatat arus kas operasi positif sebesar Rp203 miliar.
Editor Siti Anisatusshalihah