Bantentv.com – Krisis energi global yang memicu konflik di Timur Tengah mulai terasa luas. Harga bahan bakar minyak (BBM) naik tajam di berbagai negara, bahkan di sejumlah wilayah kenaikannya mencapai lebih dari dua kali lipat dalam hitungan minggu.
Mengutip Visual Capitalist, ini terjadi setelah konflik AS–Iran memicu harga minyak mentah global menembus US$100 per barel. Dampaknya, biaya bensin di 128 negara mengalami kenaikan signifikan dalam periode 23 Februari hingga 13 April 2026.
Selain itu, Asia Tenggara menjadi kawasan yang paling terdampak. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor energi membuat negara-negara di wilayah ini sangat rentan terhadap harga gejolak global.
Baca Juga: Harga BBM Awal April 2026 Stabil, Ini Daftar Lengkapnya
Bahkan, kawasan ini mencapai setengah dari daftar negara dengan kenaikan harga BBM tertinggi di dunia.
Myanmar mencatat rekor paling ekstrem dengan kenaikan hingga 101,1 persen, disusul Filipina (72,6 persen) dan Malaysia (68,1 persen).
Di sisi lain, kenaikan tajam ini dipicu oleh jalur distribusi minyak yang bergantung pada Selat Hormuz, salah satu titik paling krusial dalam perdagangan energi global.
Daftar Negara dengan Kenaikan BBM Tertinggi
Berikut negara dengan penawaran harga BBM paling ekstrem:
| Peringkat | Negara | Kenaikan |
|---|---|---|
| 1 | Myanmar | 101,1% |
| 2 | Filipina | 72,6% |
| 3 | Malaysia | 68,1% |
| 4 | Laos | 45,6% |
| 5 | Zimbabwe | 42,9% |
| 6 | Pakistan | 42,0% |
| 7 | UEA | 40,8% |
| 8 | Kamboja | 40,4% |
| 9 | Nepal | 39,5% |
| 10 | Panama | 38,5% |
| 11 | Guatemala | 37,7% |
| 12 | Tanzania | 37,0% |
| 13 | Peru | 35,6% |
| 14 | Amerika Serikat | 35,1% |
| 15 | Malawi | 34,4% |
Risiko Berlanjut
Kenaikan harga BBM ini berpotensi terus berlanjut jika konflik geopolitik tidak mereda. Negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor energi diperkirakan akan menghadapi tekanan paling besar.
Baca Juga: Gagal Capai Kesepakatan, Rencana Blokade Selat Hormuz Picu Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS
Selain itu, minimnya cadangan energi domestik membuat banyak negara sulit menekan harga dalam waktu singkat.
Jika gangguan distribusi terus terjadi, dampaknya bisa meluas ke sektor lain, mulai dari transportasi hingga harga kebutuhan pokok.
Editor AF Setiawan