Lebak, Bantentv.com – Aroma santan dan gula merah yang mengepul dari dapur sederhana di Kampung Selaraja Tengah, Desa Selaraja, Kecamatan Warunggunung, seolah menjadi penanda datangnya Ramadhan. Di tempat inilah kue tradisional Jojorong dibuat dengan cara lama, menjaga cita rasa yang telah diwariskan puluhan tahun.
Bagi masyarakat Lebak, Jojorong bukan sekadar jajanan pasar. Kue ini sudah menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa.
Setiap Ramadhan tiba, permintaannya selalu meningkat dan hampir selalu hadir di antara deretan takjil lainnya.
Sekilas tampilannya sederhana. Kue berwarna putih lembut dengan lapisan gula merah di bagian dasar itu disajikan dalam wadah daun pisang berbentuk mangkuk kecil.
Namun justru dari itulah daya tarik Jojorong muncul. Aroma daun pisang yang berpadu dengan santan dan gula merah menghadirkan rasa khas yang sulit dilupakan.
Baca Juga: Bazar “Kadaharan Buka Puasa” Ramai Sejak Hari Pertama Ramadhan di Pandeglang
Di dapur miliknya, Emak Iyar masih mempertahankan proses pembuatan Jojorong secara tradisional.
Adonan tepung beras dicampur santan kelapa dan irisan gula merah, lalu dituangkan ke dalam cetakan daun pisang.
Setelah itu, kue dikukus di atas tungku bara api selama kurang lebih satu jam hingga matang.
Proses yang panjang dan melelahkan justru menjadi kekuatan Jojorong. Ketika banyak makanan kini diproduksi serba cepat, kue tradisional ini tetap bertahan dengan cara lama.
Emak Iyar mengaku setiap Ramadhan menjadi momen paling sibuk baginya. Pesanan datang hampir setiap hari dari berbagai pelanggan.
“Alhamdulillah, jalan tiap hari. Banyak yang pesan. Jadi pokoknya makanan tradisional mah yang paling banyak dicari masyarakat tuh cuman gegeplak, jojorong,” ujar Iyar saat ditemui di tempat produksinya.

Selain Jojorong, ia juga membuat beberapa jajanan tradisional lainnya seperti geplak, buras, hingga risol. Namun Jojorong tetap menjadi yang paling banyak diburu pembeli. Dalam sehari, Emak Iyar mampu memproduksi ratusan kue.
“Harga Jojorong Rp1.500 per buah. Geplak juga sama. Kalau kroket 10 pcs harganya Rp8.000 sampai Rp10.000 sudah pakai sambal,” jelasnya.
Pada hari biasa, penghasilannya tidak berkurang. Namun selama Ramadhan, omzetnya bisa meningkat hingga jutaan rupiah.
Baca Juga: Makanan Khas Banten yang Kembali Naik Daun di Kalangan Anak Muda
“Ya kadang-kadang kita sehari dapat kecilnya 300, gedenya 500 gitu,” katanya.
Di tengah menjamurnya kue modern dan dessert kekinian, Emak Iyar memilih tetap setia membuat jajanan tradisional.
Baginya, usaha ini bukan sekedar mencari penghasilan, tetapi juga menjaga warisan keluarga agar tidak hilang ditelan zaman.
Editor AF Setiawan