Pandeglang, Bantentv.com – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Selat Sunda dalam beberapa hari terakhir memicu dampak serius di wilayah pesisir Kabupaten Pandeglang. Gelombang tinggi membawa hamparan sampah plastik dan kayu gelondongan berukuran besar hingga menutupi bibir pantai, mulai dari wilayah Labuan hingga Carita.
Pantauan Rabu, 7 Januari 2026, kondisi paling parah terlihat di Pantai Batako, Desa Teluk, Kecamatan Labuan.
Tumpukan sampah dan kayu besar menutup hamparan pasir, membuat kawasan pantai tampak seperti lautan sampah. Situasi serupa juga ditemukan di Pantai Bentengan hingga Pantai Laguna.
Bahan yang terdampar bukan sekedar mengoceh, melainkan kayu gelondongan jenis jengjeng, mahoni, dan meranti.
Kayu-kayu tersebut diduga kuat terbawa arus laut akibat gelombang tinggi serta kiriman dari sungai-sungai yang meluap di wilayah lain akibat hujan berintensitas tinggi.
Petugas Balawista Kabupaten Pandeglang, Suryadi, membenarkan fenomena tersebut berdampak langsung pada cuaca ekstrem.
“Kayu gelondongan yang terdampar ini beragam jenisnya, seperti mahoni, meranti, dan jengjeng. Sebarannya terlihat dari Pantai Kodok hingga Coconut Island. Saat ini pantai juga relatif sepi karena wisatawan enggan mendekati akibat cuaca buruk,” jelas Suryadi, Rabu, 7 Januari 2026.
Dampak paling berat yang dirasakan nelayan setempat. Keberadaan kayu-kayu besar di laut menjadi ancaman serius bagi keselamatan dan alat penangkapan mereka.
Seorang nelayan Desa Teluk, Rudin, mengungkapkan bahwa kayu gelondongan mulai terlihat sejak Sabtu malam saat cuaca memburuk.
“Kayu gelondongan ini datang sejak Sabtu malam, waktu hujan deras dan gelombang tinggi. Tahu-tahu sudah ada di sini. Mungkin terbawa arus dari seberang Selat Sunda. Sangat mengganggu saat mau melaut,” ujar Rudin.
Menurut Rudin, kayu besar berpotensi menabrak lambung kapal, sementara sampah plastik sering terangkut di jaring, membuat hasil tangkapan nelayan menurun.
“Kalau dipaksakan jalan, kayu bisa menabrak kapal. Sampah juga sering nyangkut di jaring. Harapannya segera dibersihkan,” keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan nelayan lain, Usep, yang menyebut tumpukan sampah dan kayu membuat aktivitas melaut semakin berisiko.
“Sampah ini sering menjangkau jaring. Sejak cuaca buruk, sampah dan kayu gelondongan membuat banyak arus terbawa arus. Ini jelas menyulitkan nelayan,” ungkap Usep.
Hingga kini, tumpukan sampah dan kayu gelondongan masih dibiarkan di sepanjang pesisir.
Nelayan dan warga pesisir berharap Pemerintah Kabupaten Pandeglang bersama instansi terkait segera melakukan pembersihan massal.