Bantentv.com – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, ucapan “Minal Aidin Wal Faizin” kembali ramai digunakan saat bersilaturahmi. Namun, tahukah Anda? Selama ini banyak orang mengira kalimat tersebut berarti “mohon maaf lahir dan batin”.
Sejumlah literatur keislaman, termasuk yang pernah diulas Baznas, makna ungkapan tersebut sebenarnya berbeda dari yang selama ini dipahami masyarakat.
Secara bahasa, ungkapan ini berasal dari bahasa Arab:
- Minimal: dari
- Al-‘Aidin: orang-orang yang kembali
- Wal Faizin: orang-orang yang menang
Jika digabungkan, maknanya adalah “Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah) dan menjadi orang-orang yang menang.”
Kata “kembali” Merujuk pada kembali suci setelah Ramadhan, sementara “menang” berarti berhasil menahan hawa nafsu.
Di Indonesia, ucapan ini sering dipadukan dengan tradisi saling memaafkan saat Lebaran. Akibatnya, banyak orang yang menganggap arti “Minal Aidin Wal Faizin” sama dengan “mohon maaf lahir dan batin”, padahal itu adalah makna yang berbeda.
Meski bukan berasal dari hadis, penggunaan ucapan ini tetap diperbolehkan. Namun, penting untuk memahami maknanya agar tidak terjadi kesalahan pemahaman yang terus berulang setiap tahun.
Ucapan Lebaran yang disediakan Rasulullah
Selain ucapan “Minal Aidin Wal Faizin”, terdapat salam Idulfitri yang lebih dianjurkan dalam ajaran Islam, yaitu:
“Taqabbalallahu minna wa minkum.”
Artinya: “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian.”
Ucapan ini diriwayatkan pernah digunakan oleh para sahabat Rasulullah SAW saat Hari Raya.
Maknanya sangat dalam, karena berisi doa agar seluruh ibadah selama Ramadhan diterima oleh Allah SWT.
Meski begitu, masyarakat tetap bisa menggabungkannya dengan ucapan yang sudah populer.
Contohnya: “Taqabbalallahu minna wa minkum, Minal Aidin Wal Faizin.”
Dengan demikian, tradisi tetap berjalan tanpa meninggalkan nilai-nilai sunnah. Lebaran sejatinya bukan hanya tentang kata-kata, tapi tentang makna kembali ke fitrah, memperbaiki diri, dan mempererat silaturahmi.