Bantentv.com – Memiliki banyak uang dan aset hingga mencapai kebebasan finansial (financial freedom) tentu menjadi impian banyak orang. Dengan penghasilan yang stabil, wajar jika seseorang ingin menyimpan uang di tempat yang aman.
Namun, mempercayakan menyimpan uang di tempat yang aman saja tidak cukup, apalagi di tengah lingkungan ekonomis saat ini.
Begitu pula dengan istilah ‘cash is king’ yang menggambarkan kecenderungan pelaku pasar untuk menyimpan uang tunai, baik dalam bentuk tabungan maupun instrumen likuid seperti dolar AS. Namun, menabung di bank tidak cukup untuk memberikan rasa aman.
Meskipun memiliki tabungan dan instrumen likuid yang cukup penting, perencana keuangan mengingatkan bahwa menimbun terlalu banyak uang di rekening justru bisa merugikan dalam jangka panjang. Mengapa? Pasalnya, nilai uang dapat mengalami inflasi atau kesalahan transaksi.
“Rekening tabungan sering kali tidak memiliki perlindungan seperti kartu kredit,” ucap Jessica Goedtel, perencana keuangan bersertifikat di Pennsylvania, dikutip dari CNBC, Minggu, 12 Oktober 2025.
Baca Juga: Cara Mendapatkan SLHS untuk Syarat Dapur MBG
Artinya, jika rekening dibobol, dana akan lebih sulit dikembalikan ke rekening semula. Oleh karena itu, sebaiknya jangan menimbun uang tunai berlebih di rekening pribadi.
Pentingnya Dana Darurat dan Tabungan Berbunga Tinggi
Sementara menurut Gregory Guenther, seorang konselor perencanaan pensiun berizin di New Jersey, juga mengatakan bahwa kita cukup menyimpan cukup uang di rekening hanya untuk menutupi tagihan satu atau dua minggu saja.
“Jika terlalu sedikit, Anda akan merasa cemas setiap kali menggesek kartu. Tapi jika terlalu banyak, saldo akan berkurang dan tidak terasa akan cepat habis, dan boros. Jadi harus sisihkan kebutuhan yang bersifat pribadi, dalam rekening sesuai dengan kebutuhan. Itu akan membuat Anda hidup tanpa harus memeriksa ulang saldo Anda sebelum membeli bahan makanan,” jelas Gregory.
Meskipun menyimpan saldo uang tunai yang sehat juga dapat membantu terhindar dari biaya admin bank, dana tersebut bukanlah pengganti tabungan dana darurat. Sebaliknya, itu merupakan dana untuk pengeluaran besar yang tidak terduga, seperti tagihan medis atau kehilangan pekerjaan.
Untuk itu, Perencana Keuangan menyarankan agar menyisihkan tabungan darurat yang setara dengan tiga hingga enam bulan di tempat terpisah yang mudah diakses. Misalnya, rekening tabungan berbunga tinggi. Dengan demikian, uang akan tersedia saat dibutuhkan kapanpun dan tanpa risiko.
Editor AF Setiawan