Bantentv.com – Salah satu yang jadi penopang pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah pertumbuhan pemakaian energi termasuk kelistrikan. Hal itu tercatat pada masa pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8 persen.
Asisten Deputi Percepatan Transisi Energi, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), Farah Heliantina menjelaskan, transisi energi di Indonesia perlu dimaknai bukan semata-mata sebagai wujud komitmen terhadap lingkungan hidup saja.
Melainkan sebagai instrumen strategi ekonomi yang secara nyata mendukung pengembangan industri, memobilisasi investasi serta kemajuan bangsa dalam jangka panjang.
“Jadi kalau dari konteks kita selama ini kan lebih dari tiga dekade pertumbuhan ekonominya bertahan di kisaran 5 persen tadi juga sudah tersampaikan dan targetnya adalah 8 persen maka supaya kita keluar dari jebakan pendapatan menengah dan mewujudkan Indonesia Emas 2045 makanya Bapak Presiden menargetkan kita pada pertumbuhan 8 persen,” ujar Farah dalam acara Renewable Energy Zones (REZ) as an Enabling Instrument, Jakarta, Selasa 28 April 2026.
Adapun cara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen adalah dengan menambah daya dari sebelumnya. Pasalnya, menurut Farah, energi merupakan salah satu sumber untuk menopang pertumbuhan tinggi, sehingga kedepannya permintaan listrik nasional akan semakin meningkat.
Baca Juga: Miliki Daya Tarik Ekonomi, Banten Jadi Tujuan Migrasi Penduduk dari Berbagai Daerah
Selain itu, peningkatan energi listrik tersebut juga diproyeksikan dari 411 terawatt hour saat ini, bisa menjadi hampir 600 terawatt hour pada tahun 2030 atau setara 2.000 terawatt hour per kapita atau dua kali lipat konsumsi per kapita saat ini.
“Realitanya saat ini bahwa batu bara itu memang menyuplai sekitar 60 persen listrik nasional. Kemudian tentu penambahan kapasitas energi terbarukan dalam satu dekade terakhir ini hanya 0,5 gigawatt per tahun dan ini menunjukkan kita masih tertinggal jauh tentunya kalau dari Tiongkok yang menghasilkan 199 gigawatt per tahun dibandingkan kita 0,5 ini gap-nya juga sangat-sangat besar,” terang Farah.
Sementara Merujuk pada data tahun 2025 ini, investasi global pada energi bersih sebenarnya cukup mengalami peningkatan yang signifikan mencapai US$ 2,15 triliun atau hampir dua kali lipat investasi dari bahan bakar fosil yang hanya US$ 1,15 triliun.
“Jadi sebenarnya kita sudah ada kemajuan tapi mungkin butuh percepatan,” ungkap Farah.
Di sisi lain, adanya IEU-CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement) dan pemberlakuan SEABEM Uni Eropa juga menjadi penegasan, bahwa akses pasar dan daya saing ekspor semakin terkait langsung dengan agenda dekarbonisasi, sehingga listrik bersih bukan lagi pilihan komplementer melainkan juga menjadi persyaratan akses pasar.
Editor Siti Anisatusshalihah