Bantentv.com – Di tengah derasnya arus modernisasi dan musik digital, ada satu warisan budaya yang tetap berdiri kokoh di pedalaman Banten, yaitu Angklung Buhun.
Bukan sekadar alat musik bambu biasa, angklung ini menjadi simbol spiritual, harmoni, dan penghormatan masyarakat adat Baduy terhadap alam dan leluhur.
Suara khasnya lembut, mendayu, namun siapa pun punya kekuatan magis yang mampu menyentuh hati pun yang mendengarnya. Tak heran, masyarakat Baduy menyebutnya sebagai “suara jiwa huma” yaitu irama kehidupan yang menyatu dengan alam.
Jejak Sejarah dari Zaman Nenek Moyang
Angklung Buhun telah dimainkan sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum masa kolonial. Kata “buhun” sendiri berarti tua atau kuno dalam bahasa Sunda Banten.
Baca Juga: Mengenal Sejarah Angklung yang Menjadi Doodle Google
Instrumen ini dibuat sepenuhnya dari bambu alami tanpa cat maupun paku logam — melambangkan kehidupan masyarakat Baduy yang dekat dengan alam.
Menurut Jaro Saija, tokoh adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Angklung Buhun tidak digunakan secara sembarangan.
“Angklung Buhun hanya dimainkan pada upacara adat penting seperti Seren Taun atau panen padi huma. Musik ini bagian dari doa kami kepada alam dan leluhur,” ujarnya.
Suara angklung dipercaya bisa menenangkan bumi dan menolak bala. Oleh karena itu, ia hanya dimainkan oleh laki-laki dewasa yang telah menjalani ritual adat dan memiliki hati bersih.
Harmoni Alam dalam Nada Bambu
Berbeda dengan angklung modern dari Jawa Barat, Angklung Buhun Banten memiliki bentuk dan bunyi yang lebih sederhana, namun penuh karakter.
Jumlah nada yang dimainkan tidak mengikuti tangga nada modern, melainkan mengikuti irama alam dan pernapasan pemainnya.
Setiap tabuhan simbol menjadi hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sebuah komunikasi spiritual yang diwujudkan melalui getaran bambu.
Saat dimainkan bersama, suara angklung terasa seperti desiran angin di hutan, seolah menyatu dengan kehidupan sekitar.
Dari Ritual Sakral ke Warisan Budaya Dunia
Kini, Angklung Buhun tak lagi hanya dimainkan di upacara adat. Pemerintah Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten aktif memperkenalkan kesenian ini ke berbagai festival budaya, termasuk Festival Seren Taun Baduy dan Pekan Budaya Nasional.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI juga telah menetapkan Angklung Buhun sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) pada tahun 2020.
Langkah ini menjadi pengakuan bahwa musik tradisional ini bukan hanya milik Banten, tapi juga bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Melestarikan Nada-Nada Leluhur
Angklung Buhun mengajarkan banyak hal seperti ketenangan, kesederhanaan, dan rasa syukur. Ia adalah pengingat bahwa musik tak selalu membutuhkan kemegahan, cukup dengan ketulusan dan harmoni.
Bagi masyarakat Baduy, memainkan Angklung Buhun berarti menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.
Dan selama suara bambu itu masih bergema dari pedalaman Kanekes, roh budaya Banten akan terus hidup, menyatu dalam setiap hembusan angin dan getaran bumi.
Artikel ini ditulis oleh Iqbalpeserta program magang di Bantentv.com. Konten telah melalui proses penyuntingan oleh tim redaksi.
Editor : Erina Faiha