Serang, Bantentv.com – Nenek Sainah, warga Desa Pringwulung, Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang, hidup seorang diri di sebuah rumah yang jauh dari kondisi layak.
Atap yang bocor, dinding geribik, serta terpal bekas limbah pabrik yang menutupi sebagian bangunan membuat tempat tinggalnya semakin rapuh.
Di usia lanjut, ia tetap bertahan meski rumah tersebut tidak dapat melindunginya sepenuhnya dari hujan maupun angin.
“Kalau hujan pasti bocor, kalau misal anginnya lagi kencang, saya takut rubuh,” ungkapnya.
Baca Juga: Usai 20 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot, Pasangan Lansia di Lebak Akhirnya Menerima Bantuan Rumah
Sejak ketiga anaknya berumah tangga dan tinggal terpisah, Sainah menjalani hari-harinya sendirian.
Sudah hampir satu dekade ia menetap di rumah yang rusak parah tersebut, tanpa kemampuan untuk memperbaiki bagian-bagian yang rapuh.
Kondisi bangunan yang hanya bertumpu pada material seadanya membuat kesehariannya berjalan dengan penuh kekhawatiran, terutama ketika cuaca tidak mendukung.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Sainah bekerja sebagai buruh tandur dengan pendapatan sekitar 25 ribu rupiah per hari.

Pekerjaan itu pun tidak selalu ada, sehingga sebagian hari terpaksa ia habiskan di rumah. “Kalau ada kerja ya kerja, kalau gak ada, ya di rumah saja,” ujarnya
Saat tidak dipanggil bekerja, ia mencari kayu bakar di sekitar lingkungan sebagai upaya bertahan hidup.
Sainah mengaku jarang menerima bantuan. Hanya beberapa kali ia pernah mencapainya, dan itu pun sudah lama berlalu.
Kondisi yang ia bahas membuatnya berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait.
“Sudah pernah mendapat bantuan, namun saya harap mungkin rutin, karena kondisinya seperti ini,” katanya.
Ia berharap pemerintah setempat dapat memberikan bantuan yang dapat meringankan beban hidupnya, terutama terkait kondisi tempat tinggal yang tidak layak.
Editor Siti Anisatusshalihah