Pandeglang – Desa Kaungcaang, Kabupaten Pandeglang berhasil mengubah lahan bengkok seluas 8 hektar yang sebelumnya hanya menjadi “lahan tidur” atau hutan, menjadi kawasan pertanian produktif.
Pemerintah Desa, melalui sinergi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tamtaman Maju, dan kelompok tani, berinisiatif untuk memanfaatkan lahan tersebut sebagai sumber Pendapatan Asli Desa (PADes) dan meningkatkan perekonomian masyarakat.
Kepala Desa Kaungcaang, Humaedi menjelaskan dari total lahan seluas 8 hektar, gagal memulai penanaman pisang seluas 1,5 hektar.
“Kita baru saja memulai pembukaan lahan, dan rencana akan menanam total dua ribu batang pisang. Tujuan kami melakukan kegiatan ini untuk meningkatkan pendapatan asli desa dan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat Desa Kaungcaang,” ujar Humaedi saat meninjau lahan bengkok Selasa, 11 November 2025.
Ia berharap, lahan yang awalnya terlantar ini dengan ditanami pisang dan komoditas lain bisa memberikan manfaat signifikan bagi sekitar 3.670 jiwa penduduk desa.
Pisang Ambon Hingga Alpukat Jadi Andalan
Tidak hanya fokus pada pisang, Desa Kaungcaang juga mengembangkan komoditas lain. Selain pembukaan 1,5 hektar kebun pisang (jenis Ambon, Nangka, dan Mulih), mereka juga menanam Alpukat di lahan seluas 1 hektar.
Ketua BUMDes Tamtaman Maju, optimis dengan potensi hasil kebun pisang ini.
“Untuk pengelolaan budidaya pisang, kami baru menyelesaikan pembabatan dan penanaman. Diperkirakan 6 sampai 8 bulan lagi sudah bisa berbuah atau panen. Kami perkirakan jika sudah musim panen, penghasilan dari usaha ini bisa mencapai lebih dari Rp40 juta,” jelas Dedi, menambahkan bahwa perawatan tanaman pisang dinilai mudah dan murah.
Ketahanan Pangan Dengan Cabai dan Timun
Dalam upaya mendukung program ketahanan pangan lokal, Desa Kaungcaang juga konsisten menanam sayuran. BUMDes setempat saat ini tengah menggarap penanaman Cabai dan Timun.
“Alhamdulillah sudah berjalan, untuk timun sudah 2 kali panen dan cabai sebentar lagi akan memasuki masa panen. Saat ini timun sudah masuk masa tanam kembali,” tambah Dedi.
Antusiasme masyarakat terbilang tinggi, karena program pemanfaatan lahan ini melibatkan langsung kelompok tani dan masyarakat Desa Kaungcaang, mewujudkan sinergi untuk kesejahteraan bersama.
Editor AF Setiawan