Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi Ponpes Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang. Nasaruddin menjawab permintaan Pengasuh Ponpes API Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf yang juga mendorong hal tersebut.
“Setelah Kemenag tidak lagi mengurusi haji, kami berharap Kemenag lebih konsentrasi di bidang pendidikan keagamaan baik infrastruktur yang masih memprihatinkan terlebih nasib guru-gurunya khususnya,” kata Gus Yusuf di Tegalrejo, Jumat (6/2/2026).
“Terkait dengan Pengangkatan PPPK untuk guru madrasah swasta, Kemenag supaya membuat Peraturan Menteri (PMA) terkait dengan menyalurkan PPPK kepada guru-guru Madrasah swasta khususnya yang sudah lama mengabdi di yayasan (tanpa tes),” sambung Gus Yusuf.
Pengangkatan PPPK, kata Gus Yusuf, sebagai bentuk penghormatan kepada guru-guru senior puluhan tahun mengabdi dan Ditempatkan di madrasah asal.
“Sebagaimana Kemendikdasmen juga sudah membuat Permendikdasmen No 1 tahun 2025 soal PPPK. Sekaligus Kemenag juga wajib menawarkan kebutuhan anggaran untuk ini agar tidak ada dikotomi antara guru madrasah swasta dengan guru sekolah swasta,” imbuhnya.
“Percepatan sertifikasi dan inpassing tanpa melalui PPG (Program Pendidikan Profesi Guru) untuk guru-guru yang sudah memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) dan sudah terdaftar di Simpatika/ Emis Kemenag,” lanjut Gus Yusuf.
Terkait dengan harapan yang disampaikan Gus Yusuf tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, hal tersebut disuarakan bukan hanya di Magelang, tapi di tempat lain juga.
“Dan jawaban saya juga sama, bahwa kita berterima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo ya. Ada perhatian yang besar untuk menyelesaikan persoalan-persoalan guru, tapi tidak sekaligus karena jumlah totalnya sekitar 700.000 lebih, hampir 800.000,” kata Nasaruddin.
“Nah kalau di sekaligus itu sebagian anggaran Kementerian Agama itu bisa. Tapi, perjuangan kita didukung oleh DPR, didukung sendiri oleh Bapak Presiden. Cuma nanti alokasi anggarannya itu karena di negara ini kan bukan hanya Kementerian Agama, kementerian lain juga yang jelas bahwa banyak contoh dengan memanggil direktur atau direktorat menjadi direktorat jenderal itu suatu prestasi tersendiri,” ujarnya.
Nasaruddin mengatakan, sebelum-sebelumnya pesantren hanya diurus oleh 1 direktur.
“Sekarang menjadi dirjen. Dan contoh kecil lagi PPG itu pendidikan keanggotaan guru ya itu hanya kita kuotanya sedikit. Sekarang ini kuotanya meningkat 700 persen setiap tahunnya. Masyaallah,” bebernya.
“Pengangkatan juga ini sudah mulai kita cicil sedikit demi sedikit. Tapi, nanti mudah-mudahan bisa lebih banyak lagi nanti bisa kita serap di masa akan datang. Kami mohon doanya kepada rekan-rekan guru bahwa di atas kami tetap berjuang, dan terus berjuang dan pada akhirnya ada hasil perjuangan itu insyaallah,” lanjutnya.
Perihal Kemendiknas mendapat program insentif Rp 400 ribu untuk guru honorer untuk Kemenag, kata Nasaruddin, Kemendikdasmen itu 95 persen sekolahnya kan negeri, hanya 5 persen swasta.
“Nah kalau kita di Kementerian Agama 95 persen swasta dan hanya 5 persen negeri. Jadi memang beda. Maka, itu kalau perjuangannya sekian-sekian, sekian, guru negeri itu memang karena sudah dari sononya. Nah Pak Presiden Prabowo ini ke depan dia ingin tidak membedakan lagi antara pesantren dengan sekolah, sama sama rakyat anak kok. Cuma nanti tahapan-tahapannya insyaallah akan ada,” tutupnya.
(afn/aku)