Bantentv.com – Blokade de facto Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas konflik dengan Amerika Serikat dan Israel yang memicu krisis energi global. Para ahli bahkan mengancam situasi ini berpotensi mendorong dunia ke jurang resesif.
Sejak konflik memanas pada 28 Februari 2026, Iran masih membatasi akses Selat Hormuz, jalur strategis yang setiap harinya melewati sekitar 20 juta barel minyak.
Selat Hormuz memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi global. Ketegangan di kawasan tersebut dapat memicu timbulnya inflasi dan dampak signifikan bagi negara-negara yang bergantung pada distribusi energi melalui jalur itu.
Mengutip Al Jazeera, hampir 2.000 kapal dilaporkan tertahan di sekitar selat sempit yang berada di antara Iran di sisi utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan.
Baca Juga: Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Daftar Negara yang Tetap Diizinkan Melintas
Iran Wacanakan Biaya Tol Kapal
Pada hari Kamis, media Iran melaporkan parlemen tengah mengupayakan pengesahan aturan yang memungkinkan pemerintah memungut biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
“Menurut rencana ini, Iran akan memungut biaya untuk memastikan keamanan kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz,” ujar seorang pejabat, dikutip Al Jazeera, Minggu, 29 Maret 2026.
Ia menilai kebijakan tersebut wajar, karena Selat Hormuz dianggap sebagai koridor strategi yang berada di wilayah pengawasan Iran.
Harga Minyak Melonjak
Penutupan Selat Hormuz menyebabkan harga minyak dunia melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel, atau meningkat sekitar 40 persen dibandingkan sebelum konflik terjadi.
Kenaikan harga energi tersebut memaksa sejumlah negara, khususnya di kawasan Asia, melakukan penjatahan bahan bakar serta menekan produksi industri.
Sejumlah negara yang terdampak juga dikabarkan melobi Iran agar membuka kembali akses streaming, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk.
Iran sendiri menuntut pengakuan internasional atas otoritasnya di Selat Hormuz sebagai salah satu syarat untuk mengakhiri konflik.
Anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, bahkan menyebut negaranya telah mengenakan biaya sekitar 2 juta dolar AS atau setara Rp33 miliar kepada sejumlah kapal yang melintasi selat tersebut.
“Saat perang berlangsung, tentu ada biaya yang harus ditanggung. Oleh karena itu kami memungut biaya transit bagi kapal yang melewati Selat Hormuz,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, menyebut hampir 2.000 kapal masih menunggu di kedua sisi Selat Hormuz untuk dapat berlayar.
Perusahaan intelijen maritim Windward menilai kemacetan terjadi karena banyak operator memilih menunggu situasi membaik dibandingkan harus mengambil rute alternatif yang lebih jauh.
Kondisi ini semakin menekankan pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi global yang mempengaruhi stabilitas perekonomian dunia.
Editor : Erina Faiha