Bantentv.com – Desa Menang Gini, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, menjadi salah satu wilayah yang masih terlindungi dan belum menerima bantuan secara optimal pascabanjir besar yang melanda Sumatera.
Akses distribusi bantuan hingga kini terhentinya putusnya jalan antar-desa, tertutup tumpukan kayu gelondongan yang terbawa arus Sungai Tamiang.
Sudah lebih dari sepekan, warga masih terlindungi dan bertahan dengan kondisi terbatas. Banyak di antara mereka harus menempuh jarak belasan kilometer hanya untuk mendapatkan pasokan makanan dan udara bersih.
Safri Maulu, salah seorang warga, menceritakan awal kemunculan gelondongan kayu yang menutup akses setelah banjir besar menghantam wilayah tersebut.
Baca Juga: ISPA Dominasi Kasus di Pengungsian Sumbar, BNPB Perkuat Layanan Kesehatan
“Akses ke desa kami terputus oleh kayu yang datang dari sungai. Bantuan sampai sekarang masih tersendat karena kayu-kayu ini menutup jalan. Kayu datang Minggu siang sekitar jam dua dari arah sungai menuju organisasi warga hingga malam,” ujarnya, dikutip dari Antara, Sabtu, 6 Desember 2025.
Warga lainnya, Tangku Muhammad Rizal, menilai banjir di Aceh Tamiang kali ini sebagai salah satu yang terparah dalam sejarah daerah tersebut.
Menurutnya, skala kerusakan bahkan terasa lebih luas dibandingkan tsunami tahun 2004 silam.
“Saya rasa ini lebih parah dari tsunami. Tsunami dulu hanya mengenai wilayah pesisir, sedangkan sekarang seluruh daerah terdampak. Akses jalan terputus, dan kami tidak punya apa-apa lagi,” ungkapnya.
Tangku mengaku masih bisa keluar masuk desa menggunakan sampan kecil untuk mencari air bersih, satu-satunya alat transportasi yang tersisa setelah seluruh jalur darat lumpuh.
Sementara itu, sisa lumpur tebal dan tumpukan kayu menjadi pekerjaan berat bagi tim penanganan bencana.
Proses pembukaan akses jalan berjalan lambat karena ekskavator harus memindahkan puluhan kubik kayu gelondongan yang menutupi sejumlah titik vital.