Bantentv.com – Raksasa pengembang game Electronic Arts (EA) resmi diakuisisi oleh konsorsium yang dipimpin Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi. Konsorsium ini bekerja sama dengan Silver Lake dan Affinity Partners.
Kesepakatan senilai US$55 miliar atau sekitar Rp917 triliun diumumkan melalui situs resmi EA. Hal ini menjadikannya salah satu akuisisi terbesar sepanjang sejarah industri video game. Hanya kalah dari pembelian Activision Blizzard oleh Microsoft pada tahun 2023.
Dalam kesepakatan tersebut, konsorsium yang dipimpin akan membeli 100% saham EA. Sebelumnya dana investasi asal Arab Saudi itu sudah memiliki sekitar 10% kepemilikan.
Ekuitas sebesar US$35 miliar (sekitar Rp584 triliun) berasal dari para investor. Sedangkan utang senilai US$20 miliar (sekitar Rp322 triliun) difasilitasi oleh JPMorgan Chase Bank.
Baca Juga: Bocoran Terbaru Sebut Pokémon Gen 10 Akan Berlokasi di Wilayah yang Terinspirasi Asia Tenggara
Transaksi ini ditargetkan rampung pada kuartal pertama tahun fiskal 2027. Setelah selesai, EA akan keluar dari pasar saham publik untuk beroperasi sebagai perusahaan tertutup sepenuhnya (perusahaan swasta).
EA Tetap Dipimpin Andrew Wilson
CEO Andrew Wilson akan tetap menjabat dan memimpin perusahaan baru setelah akuisisi ini. Dalam pernyataannya, Wilson menegaskan bahwa kesepakatan tersebut merupakan bentuk pengakuan atas dedikasi dan semangat tim EA selama ini.
“Kami akan terus mendorong batas hiburan, olahraga, dan teknologi untuk membuka kesempatan baru,” ujar Wilson dalam keterangan resminya.
Pihak EA menyebut bahwa kehadiran PIF Aran Saudi, Silver Lake, dan Affinity Partners akan membawa pengalaman sektor yang mendalam. Selain itu, modal komitmen portofolio serta keyakinan global mampu membuka peluang baru. Semua ini untuk memadukan pengalaman fisik dan digital di dunia hiburan interaktif.
Baca Juga: Roblox Utama Baru? Coba 5 Map Gunung Ini, Dijamin Nggak Ada Jumpscare Bikin Kaget!
Meski diumumkan dengan optimisme, kabar akuisisi ini juga menimbulkan kekhawatiran dari kalangan internal EA.
Dikutip dari laporan GameFile, dua karyawan anonim EA menyatakan keresahan mereka terhadap perubahan kepemilikan ini.
Salah satu sumber mengungkapkan rasa takut akan kemungkinan terjadinya PHK massal akibat restrukturisasi besar-besaran.
Sementara karyawan lain menyebut bahwa kesepakatan ini terasa seperti ‘tambaran besar’ bagi karyawan perempuan. Demikian pula bagi komunitas LGBTQ+ yang saat ini bekerja di EA.
Pernyataan tersebut mengungkapkan adanya kekhawatiran. Ada kemungkinan perubahan pemegang kendali berdampak pada nilai-nilai keberagaman dan inklusivitas yang selama ini dijunjung tinggi oleh EA.
Langkah Strategi Arab Saudi di Dunia Game
Bagi Arab Saudi, langkah akuisisi ini merupakan bagian dari ‘strategi Vision 2030’. Strategi itu adalah upaya diversifikasi ekonomi yang fokus pada sektor hiburan, teknologi, dan esports.
Sebelumnya, PIF Arab Saudi juga telah berinvestasi di beberapa perusahaan besar seperti Nintendo, Capcom, Take-Two Interactive, dan Embracer Group.
Dengan akuisisi EA, Arab Saudi kini memegang kendali atas sejumlah waralaba game besar. Ini termasuk seperti FIFA (EA Sports FC), Battlefield, The Sims, dan Apex Legends. Hal ini menjadikannya salah satu kekuatan baru di industri hiburan global.
Di satu sisi, langkah ini membuka peluang inovasi dan ekspansi yang lebih besar bagi EA. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar tentang arah budaya perusahaan dan kebebasan berkreasi di bawah kepemilikan baru.
Apapun hasil akhirnya, yang pasti dunia game kini resmi memasuki babak baru. Babak ini berada di bawah bayang-bayang investasi besar dari Timur Tengah.
Artikel ini ditulis oleh Iqbal peserta program magang di Bantentv.com.Konten telah melalui proses penyuntingan oleh tim redaksi.
Redaktur: AF Setiawan