Bantentv.com – Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat selama dua pekan mulai memicu harapan stabilitas di pasar energi global. Kesepakatan tersebut dinilai berpotensi menurunkan harga minyak dunia yang sempat melonjak akibat konflik di Timur Tengah.
Kesepakatan gencatan senjata yang terjadi sejak Selasa, 7 April 2026, juga diikuti dengan pembukaan terbatas jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pengiriman energi paling vital di dunia.
Selama konflik berlangsung, ketegangan di Selat Hormuz sempat memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global. Kondisi ini menyebabkan harga energi melonjak dan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Baca Juga: Gencatan Senjata Iran–AS Berlaku 2 Pekan, Ini 10 Poin Kesepakatannya
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan jalur pelayaran di Selat Hormuz mulai dibuka secara terbatas selama masa gencatan senjata.
“Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran,” ujar Abbas Araghchi dalam pernyataannya di media sosial.
Pembukaan jalur tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam meredakan kekhawatiran pasar energi global.
Selat Hormuz diketahui melewati sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya. Gangguan di kawasan ini dapat berdampak langsung terhadap harga minyak global.
Dengan berkurangnya ketegangan pelaku militer, pasar mulai melihat potensi stabilisasi harga energi.
Baca Juga: Lewati Selat Hormuz Kini Berbayar, Iran Patok Tarif Hingga 2 Juta Dolar per Kapal
Gencatan senjata juga membuka peluang pemulihan rantai pasok energi yang sempat terganggu selama konflik sedang berlangsung.
Jika kondisi stabil terus berlanjut, harga minyak dunia diperkirakan akan mengalami koreksi setelah sebelumnya sempat meningkat tajam.
Namun demikian, para analis memperingatkan bahwa situasi masih bersifat sementara. Masa gencatan senjata selama dua pekan dinilai menjadi periode krusial untuk menentukan arah konflik ke depan.
Dampak Global Mulai Terasa
Selama konflik Iran–AS berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah. Sejumlah negara mengalami gangguan harga energi dan logistik global.
Kenaikan harga minyak juga berimbas pada sektor transportasi, industri, hingga pangan di berbagai negara.
Dengan adanya gencatan senjata, pasar global berharap tekanan tersebut mulai mereda. Namun, jika permainan lanjutan gagal, ketegangan berpotensi meningkat kembali dan memicu peluncuran harga energi kembali.