Bantentv.com – Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak bisa dianggap sebagai isu bilateral semata. Setiap eskalasi berpotensi mengguncang stabilitas Timur Tengah, kawasan strategis yang menjadi jalur energi dan penerbangan global.
Dalam situasi ini, perhatian umat Islam juga tertuju pada pelaksanaan Haji 2026 di Arab Saudi. Bidang Pengkajian Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) membeberkan potensi risiko terburuk akibat konflik yang memanas.
Keamanan dan Ruang Udara Jadi Faktor Utama
Menurut Himpuh, haji merupakan operasi logistik tahunan terbesar di dunia yang sangat bergantung pada keamanan kawasan, stabilitas ruang udara, dan kelancaran penerbangan lintas negara.
“Faktor paling krusial adalah keamanan dan status ruang udara. Jalur penerbangan di atas Iran, Irak, serta kawasan Teluk Persia menjadi penghubung utama Asia dengan Eropa dan Timur Tengah. Saat konflik meningkat, wilayah udara bisa ditutup atau dibatasi secara ketat,” tulis Himpuh.
Baca Juga: Ketegangan di Timur Tengah Memuncak, IRGC Tutup Selat Hormuz Setelah Serangan AS-Israel ke Iran
Maskapai global biasanya menghindari area berisiko tinggi, terutama saat sistem pertahanan aktif dan patroli militer diperkuat. Pengalihan rute membuat durasi penerbangan lebih panjang, konsumsi bahan bakar meningkat, dan jadwal keberangkatan menjadi lebih padat.
Dampak Operasional dan Biaya
Konflik yang meningkat secara langsung mempengaruhi sektor penerbangan sipil. Maskapai menempatkan keselamatan sebagai prioritas, sehingga pengalihan rute dapat dilakukan dalam waktu singkat. Bagi jamaah Asia Tenggara, hal ini berpotensi menimbulkan tertundanya keberangkatan, terjadinya jadwal embarkasi, hingga kebutuhan cadangan armada.
Himpuh menambahkan, “Ibadah haji tetap bisa berlangsung, tetapi tekanan operasional menjadi jauh lebih berat,” tambahnya.
Asuransi risiko Lonjakan biaya perang juga menjadi perhatian. Maskapai yang terbang ke kawasan konflik wajib membayar premi tambahan untuk melindungi pesawat dan kru, yang bisa naik berkali-kali lipat secara cepat. Kenaikan biaya ini biasanya berdampak pada harga tiket dan komponen biaya penyelenggaraan haji, terutama bagi Indonesia sebagai negara pengirim jamaah terbesar.
Risiko di Selat Hormuz dan Harga Minyak
Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, juga menjadi faktor krusial. Gangguan di jalur ini berpotensi mendorong harga minyak global naik, sekaligus meningkatkan biaya avtur yang menenangkan penerbangan haji.
Penerbangan menuju Arab Saudi bergantung pada maskapai seperti Garuda Indonesia, Saudia, Emirates, dan Qatar Airways. Jika wilayah menjadi zona militer aktif, jadwal bisa terganggu, efisiensi rute menurun, dan biaya bahan bakar melonjak.
Kemungkinan Pembatalan Haji
Pembatalan total Haji 2026 baru mungkin terjadi jika konflik meluas hingga menyeret Arab Saudi atau menutup ruang udara secara luas. Selama wilayah tujuan tetap aman dan bandara beroperasi, ibadah yang diprediksi tetap berlangsung, meskipun tekanan biaya dan risiko meningkat akibat dampak konflik terhadap Iran.
Editor : Erina Faiha