Bantentv.com – Hantavirus belakangan menjadi sorotan dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan pelacakan terhadap penumpang pesawat terkait kasus kematian akibat virus tersebut di Afrika Selatan.
Namun banyak yang belum mengetahui bahwa hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru di Indonesia. Penelitian menunjukkan virus ini sudah ditemukan sejak puluhan tahun lalu dan masih berpotensi menjadi ancaman kesehatan masyarakat.
Kementerian Kesehatan RI bahkan memasukkan hantavirus sebagai salah satu zoonosis yang muncul. Yaitu, penyakit yang berasal dari hewan dan berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan serius.
Berdasarkan materi edukasi Kementerian Kesehatan, studi di berbagai kota besar menunjukkan seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen.
Baca Juga: WHO Lacak Penumpang Pesawat Usai Kasus Kematian Hantavirus, Ini Penjelasannya
Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu orang pernah terpapar virus ini. Namun, mereka tidak selalu mengalami gejala berat atau terdiagnosis secara resmi.
Tidak hanya pada manusia, penelitian juga menemukan infeksi hantavirus pada populasi tikus mencapai 0 hingga 34 persen di beberapa wilayah.
Hal tersebut menunjukkan virus masih aktif menyebar di lingkungan. Khususnya di daerah dengan populasi tikus tinggi dan sanitasi yang kurang baik.
Berbeda dengan demam berdarah yang ditularkan nyamuk, hantavirus menyebar melalui partikel kecil dari urin, feses, atau udara liur tikus yang mengering. Selanjutnya, partikel tersebut lalu bercampur dengan udara.
Ketika debu tersebut menyerang manusia, virus bisa masuk ke dalam tubuh.
Gejala awal hantavirus sering menyerupai flu biasa sehingga kerap tidak disadari. Dalam beberapa kasus, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru serius hingga gagal napas.
Baca Juga: Perketat Pencegahan Virus Nipah, Karantina Banten Awasi Bandara Soetta
Kementerian Kesehatan menyebut hingga saat ini belum ada vaksin hantavirus yang digunakan secara luas.
Oleh karena itu, pencegahan menjadi langkah paling penting untuk mengurangi risiko penularan.
Hantavirus menjadi perhatian karena keberadaannya sering tidak terdeteksi. Banyak orang yang menganggap tikus rumah sebagai hal biasa, padahal hewan tersebut bisa membawa berbagai penyakit berbahaya.