Lebak, Bantentv.com – Kondisi jalan penghubung antar desa di Kampung Cibarani, Desa Cibarani, Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak, Banten, dikeluhkan warga dan para pengguna jalan.
Kerusakan jalan tersebut terlihat di sejumlah titik dengan permukaan berlumpur, tanah merah bercampur bebatuan, serta hampir tidak ditemukan lapisan aspal di sepanjang ruas jalan.
Kondisi jalan yang demikian membuat kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, kesulitan melintas, terutama saat musim hujan.
Jalan yang rusak dan licin kerap memperlambat perjalanan warga, bahkan meningkatkan risiko kecelakaan. Kerusakan jalan ini diketahui telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa adanya perbaikan yang signifikan.
Warga menilai kondisi jalan tersebut tidak hanya menghambat aktivitas harian masyarakat, tetapi juga berdampak serius terhadap akses layanan publik, khususnya pendidikan dan kesehatan.
Salah satu warga Kampung Cibarani, Rina, mengungkapkan bahwa kondisi jalan rusak sudah terjadi dalam waktu lama tanpa perubahan berarti.
Baca Juga: Sungai Cibarani Meluap, Rusak Jembatan dan Dua Rumah
Menurutnya, kondisi jalan tersebut menghubungkan Kampung Cibarani dengan wilayah Sareweh serta kampung lainnya di kawasan tersebut, ucapnya.
Warga lainnya, Risna, menuturkan bahwa dampak paling berat dari kerusakan jalan dirasakan ketika masyarakat membutuhkan akses cepat menuju layanan kesehatan.
“Kondisi tersebut menyulitkan warga, terutama saat ada yang sakit atau hendak melahirkan. Jalan yang rusak membuat waktu perjalanan semakin lama dan meningkatkan risiko dalam perjalanan” katanya.
Ia menambahkan, jalan yang sering rusak membuat warga harus menempuh perjalanan lebih lama, bahkan terkadang memilih jalur alternatif yang kondisinya tidak kalah berbahaya.
Sementara itu, Staf Desa Cibarani, Warsa Sanjaya, menjelaskan bahwa total panjang jalan dari wilayah Kampung Cibarani hingga batas desa mencapai sekitar 4,5 kilometer. Dari panjang tersebut, sekitar dua kilometer berada dalam kondisi rusak parah dan sulit dilalui kendaraan.
“Dari jumlah tersebut, dua kilometer berada dalam kondisi sekitar rusak parah dan sulit dilalui kendaraan,” terangnya.
Ia menjelaskan bahwa sebagian ruas jalan lainnya memang telah diperbaiki melalui dana desa. Namun, perbaikan lanjutan belum dapat dilakukan secara menyeluruh karena keterbatasan anggaran.
“Keterbatasan anggaran akibat pemangkasan dana desa membuat perbaikan lanjutan tidak memungkinkan dilakukan secara mandiri oleh pemerintah desa,” ujarnya.
Editor Siti Anisatusshalihah