Pandeglang, Bantentv.com – Pemandangan yang mencemaskan terlihat setiap hari di Desa Cikeusik, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang.
Ratusan warga, termasuk para pelajar, harus melintasi jembatan miring yang membentang di atas Sungai Cikayang.
Dalam kondisi apa pun, akses tersebut menjadi satu-satunya jalan penghubung antardesa, sehingga masyarakat tidak punya pilihan selain bertaruh keselamatan setiap kali melewatinya.
Struktur jembatan yang kini hanya terbuat dari kayu memiliki kemiringan hingga sekitar 20 derajat. Ketika hujan turun, permukaannya menjadi licin dan berbahaya.
Situasi ini semakin menyulitkan warga yang bergantung pada jalur tersebut untuk bekerja, bersekolah, dan melakukan aktivitas harian lainnya tanpa jaminan keamanan.
Kapten Infanteri Pugiarto, Danramil 0116 Cikeusik, menjelaskan bahwa jembatan tersebut awalnya merupakan bangunan beton dengan lebar 1,5 meter dan panjang 52 meter.

Namun, banjir bandang pada tahun 2022 meruntuhkan sebagian konstruksi. Setelah kejadian itu, warga berupaya melakukan perbaikan secara swadaya, tetapi kondisi tanah di daerah bantaran sungai yang labil membuat jembatan darurat tidak pernah bertahan lama.
“Sudah berkali-kali diperbaiki, kurang lebih lima kali diperbaiki, karena kontur tanahnya labil, diperbaiki tidak sampai satu tahun, roboh lagi, begitu terus. Nah, yang saat ini, terbuat dari kayu, papan, sudah dalam posisi miring,” ungkapnya.
Baca Juga: Revitalisasi Sekolah di Cikeusik, Bupati Pandeglang Pastikan Pembangunan Sesuai Standar
Menurut laporan warga setempat, kecelakaan sudah berulang kali terjadi. Ada yang tergelincir, bahkan ada kendaraan yang terperosok ke sungai bersama pengendaranya. Risiko semakin besar terutama bagi para pelajar yang harus melintas setiap pagi dan sore.
“Sangat mempengaruhi, apalagi musim hujan seperti ini, sangat licin, terutama pada masyarakat yang menggunakan sepeda motor,” ujar Kapten Inf Pugiarto.
Karena pertimbangan keselamatan itu, warga bersama tidak yakin Muspika berharap pemerintah Kabupaten Pandeglang segera memberikan penanganan. Mereka tidak meminta pembangunan yang mewah, melainkan jembatan yang kokoh dan aman.
Editor Siti Anisatusshalihah