Bantentv.com – Ebola kini menjadi perhatian serius di dunia khususnya di Kawasan Afrika Timur. Pengetahuan hingga saat ini tercatat wabah ebola telah menewaskan 90 orang.
Dengan bertambahnya kasus dan korban meninggal di dunia, Organisasi Kesehatan Dunia atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai “darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional” atau darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC).
Penetapan status darurat global tersebut menyusul setelah wabah Ebola menewaskan 90 orang di seluruh negara Kawasan Afrika Timur.
Mengetahui Wabah terbaru itu berasal dari Provinsi Ituri di timur DRC dan disebabkan oleh strain langka Bundibugyo, varian Ebola yang saat ini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus yang disetujui.
“Setelah berkonsultasi dengan DRC dan Uganda, tempat penyakit Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo diketahui sedang terjadi saat ini, saya menetapkan bahwa epidemi tersebut merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC), sebagaimana didefinisikan dalam ketentuan IHR,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dikutip media internasional.
Baca Juga: Kasus Hantavirus Jadi Sorotan, DPR Sebut Indonesia Punya Risiko Tinggi
Tak tanggung-tanggung, risiko penyebaran wabah regional itu tergolong tinggi karena kasus telah terdeteksi di Uganda dan sejumlah pasien terkait wabah juga ditemukan di ibu kota Kongo, Kinshasa.
Meski begitu WHO belum menetapkan situasi ini sebagai pandemi global karena dinilai belum memenuhi kriteria tertinggi.
Sementara itu Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika atau Afrika CDC melaporkan hingga Sabtu 16 Mei 2026 lalu terdapat 88 kematian dan 336 kasus dugaan Ebola.
Wabah itu pertama kali terdeteksi di Mongwalu, kawasan pertambangan padat penduduk di Ituri dekat perbatasan Uganda dan Sudan Selatan.
Pasien pertama merupakan seorang perawat yang datang ke fasilitas kesehatan di Bunia, ibu kota Ituri, pada 24 April dengan gejala mirip Ebola. Setelah itu, sejumlah pasien berangkat keluar daerah untuk mencari pengobatan sehingga memperluas penyebaran penyakit ke sejumlah wilayah.
Di Uganda sendiri, pemerintah melaporkan dua kasus sudah terkonfirmasi laboratorium yang terkait dengan pelaku perjalanan dari DRC, termasuk satu pasien yang meninggal dunia di ibu kota Kampala.
Organisasi kemanusiaan Doctors Without Borders atau MSF telah memperingatkan kasus dan kematian dalam waktu singkat.
Hal inilah yang snagat mengkhwatirkan dan perlu diwaspadai oleh siapapun. Tak hanya itu, kondisi keamanan yang buruk serta akses layanan kesehatan yang cukup terbatas di Ituri disebut dapat memperumit upaya penanganan wabah.
Editor Lilik HN