Bantentv.com – Di era 1950, ketika industri kosmetik mulai berkembang pesat pasca Perang Dunia II, muncullah kisah unik. Profesi ini hingga kini masih menarik perhatian publik, yakni profesi ‘Lipstick Tester’.
Profesi ini dilakukan oleh seseorang yang bekerja untuk menguji ketahanan lipstik dengan cara dicium berulang kali oleh para wanita.
Foto-foto hitam putih yang beredar dari masa itu menampilkan seorang pria dengan wajah penuh bekas lipstik merah muda, merah tua, dan ungu.
Sekilas, gambar tesebut tampak seperti dokumentasi eksperimen romantis, namun sebenarnya ada konteks Ilmiah dan proses promosi di baliknya.
Asal Usul Cerita: Dari Laboratorium ke Majalah LIFE
Kisah ini bermula dari dokumentasi Life Magazine edisi 15 Februari 1960 berjudul ‘My Coal Tar Valentine.’ Foto yang menjadi viral itu menampilkan seorang pria bernama Richard Ramsey, yang kepalanya penuh bekas ciuman dari sejumlah wanita.
Banyak orang mengira ia adalah “pegawai” yang diceritakan dicium seharian untuk menguji daya tahan lipstik.
Namun, menurut penelusuran Snopes, tidak ada bukti bahwa profesi ‘lipstick tester’ seperti itu benar-benar eksis secara resmi.
Foto tersebut sebenarnya adalah laboratorium. Tujuannya adalah menunjukkan uji ketahanan dan keamanan pewarna lipstik yang berbahan dasar coal tar (tar batubara). Bahan itu pada masa itu baru mulai membahayakan penggunaannya oleh lembaga regulasi seperti FDA (Food and Drug Administration) di Amerika Serikat.
Tujuan Uji Ciuman: Bukan Romantis, Tapi Ilmiah
Dalam proses tersebut, sejumlah wanita mengenakan lipstik dari berbagai merek, lalu mencium bagian kepala atau wajah pria tersebut. Hasilnya kemudian diamati untuk menilai beberapa aspek penting:
- Seberapa kuat pigmen lipstik menempel setelah beberapa kali kontak.
- Kemungkinan besar perpindahan warna ke kulit lain.
- Apakah ada reaksi kulit terhadap bahan pewarna tertentu.
- Kemungkinan lama warna bertahan di permukaan kulit.
Eksperimen semacam ini merupakan bagian dari proses penelitian kosmetik yang sedang naik daun kala itu. Terutama setelah Hazel Bishop, seorang kimiawan asal New York, meluncurkan produk lipstik tahan lama pertama pada tahun 1949.
Produk “stay-on lipstik” ini menjadi revolusi di dunia kosmetik dan mendorong kompetitor lain melakukan penelitian serupa.
Meski banyak media modern yang menggambarkan “Lipstick Tester” sebagai pekerjaan resmi. Paling eksotis dan penuh sentuhan romantis. Sebagian besar kisah itu ternyata lebih banyak unsur promosi dan hiburan dibandingkan kenyataan unsur pekerjaan.
Sejumlah blog budaya populer seperti BoingBoing dan DesignYouTrust menyebut bahwa foto-foto yang beredar kemungkinan besar diambil untuk tujuan pemasaran dan kampanye keamanan produk. Itu bukan dokumentasi profesi sehari-hari.
Kisah “lipstick tester” kini lebih dikenang sebagai simbol kreativitas dan semangat ilmiah di balik glamornya dunia kosmetik tahun 1950-an.
Ia menjadi pengingat bahwa di balik kemasan cantik dan warna lipstik yang menawan, ada proses panjang penelitian dan eksperimen. Bahkan “uji ciuman” dilakukan untuk memastikan produk aman dan tahan lama.
Lebih dari sekadar kisah lucu, “penguji lipstik” merefleksikan masa di mana sains, seni, dan pemasaran bersatu menciptakan budaya kecantikan modern.
Meski profesinya mungkin tidak pernah benar-benar resmi, kisahnya tetap hidup, seindah warna lipstik yang tak mudah luntur oleh waktu.
Artikel ini ditulis oleh Bintang Sandi Putripeserta program magang di Bantentv.com.Konten telah melalui proses penyuntingan oleh tim redaksi.