Palembang, rakyatpembaruan.com-
Semangat untuk terus belajar dan berani mengambil setiap kesempatan mengantarkan Deri Yansyah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sriwijaya (UNSRI) meraih Juara 1, Gold Medal, Best Paper, Best Presentation, dan Favorite Poster kategori lomba STEM pada ajang 2nd Global Youth Summit yang dilaksanakan oleh Nanyang Technological University di Malaysia-Singapore pada tanggal 27-28 Juni 2026.
Prestasi tersebut sekaligus menambah deretan capaian mahasiswa UNSRI di tingkat internasional.
Bagi Deri, semua penghargaan yang diraihnya bukan sekadar simbol kemenangan, melainkan hasil dari proses panjang yang dibangun melalui kerja keras, konsistensi, dan kemauan untuk terus berkembang.
“Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur dan bangga. Prestasi ini bukan hanya tentang penghargaan, tetapi menjadi bukti bahwa usaha dan konsistensi yang saya lakukan selama ini membuahkan hasil. Saya berharap pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus belajar dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kampus maupun masyarakat,” ujarnya.
Perjalanan Deri menuju kompetisi internasional tidak terjadi secara instan. Ketertarikannya mengikuti berbagai ajang kompetisi dimulai sejak tahun 2024 melalui sejumlah lomba tingkat nasional, seperti National Creative Essay Competition (NACEME) Universitas Negeri Medan 2024 dan Toba Essay Competition 2024. Berbagai pengalaman tersebut menjadi pijakan awal untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menulis karya ilmiah, serta menyusun solusi atas berbagai permasalahan yang diangkat dalam kompetisi.
Dengan bekal pengalaman yang Deri punya, pada tahun 2025 ia mulai memperluas jangkauan lombanya ke kancah internasional. Ia berpartisipasi dalam Indonesia International Applied Sciense Project Olympiad (I2ASPO) Universitas Gadjah Mada 2025, Global Youth Summit 2025 di Malaysia dan memenangkan beberapa penghargaan. Hingga di tahun 2026 ia mengikuti 2nd International Student Competition (ISC) yang diselenggarakan oleh Universiti Putra Malaysia (UPM).
Menurutnya, forum internasional tersebut menjadi ruang bagi generasi muda dari berbagai negara untuk bertukar gagasan dan bersama-sama menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan global. Dibalik keberhasilannya, terdapat proses persiapan yang dilakukan secara matang. Deri mempelajari tema kompetisi secara mendalam dengan menelaah berbagai jurnal ilmiah, laporan penelitian, serta data pendukung agar ide yang disampaikan memiliki landasan yang kuat. Selain itu, ia juga melatih kemampuan presentasi dan public speaking serta rutin berdiskusi dengan dosen pembimbing dan rekan-rekannya untuk menyempurnakan materi yang akan dipresentasikan.
Sebagai mahasiswa yang aktif dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, organisasi, dan berbagai kompetisi, Deri mengakui bahwa tantangan terbesarnya adalah membagi waktu.
“Sering kali jadwal kuliah, penelitian, organisasi, dan persiapan lomba datang bersamaan. Karena itu saya membiasakan membuat target harian, menyusun prioritas, dan mengatur jadwal agar semua tanggung jawab dapat diselesaikan dengan baik,” jelasnya.
Baginya, prestasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan, tetapi juga oleh kedisiplinan dalam mengelola waktu. Ia bahkan berusaha menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan lebih awal agar dapat fokus ketika memasuki masa kompetisi persiapan. Deri juga menyadari bahwa perjalanan meraih prestasi tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami kegagalan dalam beberapa kompetisi. Namun, setiap hasil yang belum sesuai harapan dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas diri.
“Saya percaya kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Justru dari setiap kegagalan kita belajar menjadi lebih baik,” katanya.
Menurut Deri, terdapat tiga prinsip yang selalu ia pegang dalam meraih prestasi, yaitu menjaga konsistensi, terus membuka diri terhadap kritik dan masukan, serta memiliki keberanian untuk mencoba.
“Banyak orang sebenarnya memiliki potensi yang besar, tetapi takut untuk memulainya. Padahal kesempatan akan datang kepada mereka yang berani mengambil langkah pertama,” ungkapnya.
Deri berharap di masa yang akan datang, semakin banyak mahasiswa UNSRI yang berani menunjukkan potensi mereka melalui berbagai kompetisi, penelitian, maupun kegiatan pengembangan diri.
“Jangan pernah ragu untuk mencoba. Saya juga memulai semuanya dari nol dan pernah mengalami banyak kegagalan. Namun setiap proses itu menjadi pelajaran yang sangat berharga. Saya yakin mahasiswa Universitas Sriwijaya memiliki kemampuan untuk bersaing dan mengharumkan nama kampus di tingkat nasional maupun internasional,” pesannya.
Deri menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT serta ucapan terima kasih kepada kedua orang tua, keluarga, pimpinan UNSRI, FKIP, Program Studi Pendidikan Masyarakat, para dosen, teman-teman, dan seluruh pihak yang telah memberikan doa, dukungan, serta motivasi.
Baginya, penghargaan pada 2nd Global Youth Summit bukanlah sesuatu yang baru, melainkan awal dari perjalanan untuk terus berkarya, menginspirasi, dan membawa nama UNSRI serta Indonesia di tingkat internasional. (adi/rp) (Humas)
