Bantentv.com – Penemuan mikroplastik dalam air hujan tengah menggegerkan masyarakat, khususnya di wilayah Jakarta. Terbaru dalam laporan resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang terbit pada 17 Oktober 2025, telah terungkap bahwa setiap sampel air hujan di Ibu Kota mengandung partikel mikroplastik berbahaya.
Fenomena ini sontak membuat geger karena rupanya polusi plastik tidak lagi terbatas pada tanah dan laut, tetapi juga telah menyusupi atmosfer dan kembali turun dalam bentuk hujan.
Penelitian tersebut dipimpin oleh Muhammad Reza Cordova. Dalam penelitian mengungkapkan sumber mikroplastik tersebut berasal dari aktivitas manusia, mulai dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, hingga sisa pembakaran sampah plastik.
Temuan mikroplastik di air hujan wilayah DKI Jakarta mendapat tanggapan langsung dari Kementerian Kesehatan RI. Meski baru muncul dalam skala lokal, namun menjadi perhatian serius pemerintah pusat karena bisa saja memberikan dampak buruk bagi Kesehatan.
Dikatakan Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi, mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil yang dapat terbawa udara dan turun bersama hujan, terutama di wilayah dengan tingkat polusi plastik tinggi, seperti Jakarta salah satunya.
Mikroplastik bisa menimbulkan beragam risiko, terutama jika terhirup atau masuk ke saluran pernapasan.
Lalu, apa dampak buruk dari hujan mikroplastik terhadap kesehatan manusia? Berikut dampaknya:
- Stroke, Serangan Jantung, dan Kematian Mendadak
Mikroplastik telah ditemukan di plak arteri karotis, pembuluh utama penyuplai darah ke otak. Dikutip dari bebragai sumber, penelitian dari Italia pada tahun 2024 publikasi New England Journal of Medicine menemukan bahwa individu dengan penyakit jantung tahap awal yang membawa mikroplastik dalam plaknya menghadapi risiko 4,5 kali lipat lebih tinggi terkena stroke, serangan jantung, atau kematian mendadak dalam tiga tahun.
- Risiko Kerusakan Otak
Di dalam otak manusia yang telah meninggal, mikroplastik ditemukan dalam jumlah besar. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2025 oleh publikasi Nature Medicine yang menemukan mereka yang sebelumnya menderita demensia tercatat memiliki hingga 10 kali lebih banyak partikel plastik di otaknya dibandingkan yang sehat.
- Kerusakan Tulang dan Otot
Penelitian dari publikasi Tiongkok Innovation Medicine tahun 2024 menemukan adanya zat-zat mikroplastik di jaringan tulang dan otot rangka pasien operasi sendi. Jenis partikel tertentu terbukti menghambat pertumbuhan sel tulang dan otot, berisiko menurunkan kemampuan fisik dan kebugaran jangka panjang.
- Risiko Kanker
Mikroplastik diduga semakin memperparah respon peradangan, yang dapat memicu pembentukan tumor hingga perkembangan kanker. Secara khusus, kesalahpahaman antara mikroplastik dalam saluran pencernaan dan kanker kolorektal.
- Penyebaran Resistensi Obat (AMR)
Penelitian dari Tiongkok tahun 2025 publikasi Environmental International menemukan beberapa partikel mikroplastik menjadi tempat menempelnya gen resistensi antimikroba
- Mengganggu Efektivitas Obat Kanker
Penelitian dari Tiongkok tahun 2024 publikasi Molecular Cancer menemukan nanoplastik yang tertelan oleh pasien kanker dapat mengikat molekul obat, menghalangi pelepasan bahan aktif ke dalam tumor. Tentu saja ini berpotensi menurunkan keberhasilan pengobatan dan memperburuk prognosis penyakit.
Fenomena hujan mikroplastik di Jakarta bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Penemuan mikroplastik di alam maupun sekitar kita menandakan siklus plastik yang dipelajari oleh manusia, kini tengah menghantui manusia itu sendiri.
Baca Juga: Bahaya! Mikroplastik Ditemukan DaLam Tulang Manusia
Paparan kronis terhadap mikroplastik dapat mempercepat penuaan, memperparah penyakit, mengganggu kerja obat, hingga menambah beban peradangan tubuh secara diam-diam.
Tanggapan dari penemuan mikroplastik ini harus betul-betul diperhatikan, mengingat haya dan dampaknya yang cukup buruk bagi Kesehatan dalam jangka waktu lama. Diperlukan kebijakan dari pemerintah perihal bagaimana mengelola plastik dengan baik agar tidak mencemari lingkungan dan Kesehatan.
Editor lilik HN