Pandeglang, Bantentv.com – Penguatan ketahanan pangan Indonesia perlahan menunjukkan arah baru melalui kontribusi generasi muda. Salah satu sosok yang mencerminkan perubahan tersebut adalah Muhammad Teguh Arrosid, seorang petani milenial dari Kampung Curuggaru, Desa Kadugemblo, Kecamatan Kaduhejo, Pandeglang.
Dengan pendekatan modern berbasis teknologi, ia berhasil membuktikan bahwa lahan terbatas bukan lagi penghalang untuk menghasilkan produktivitas tinggi.
Teguh mampu memanen hingga satu ton cabai dari lahan yang relatif kecil, suatu capaian yang jarang ditemui pada praktik pertanian konvensional.
Kemampuan Teguh dalam mengoptimalkan lahan tidak lepas dari penerapan Smart Farming. Baginya, praktik menanam kini membutuhkan pemahaman agronomi dan pemanfaatan teknologi, bukan sekadar mengikuti pola turun-temurun.
“Menanam itu tidak sekadar menanam. Kami memakai agronomi dan teknologi seperti IoT (Internet of Things), irigasi tetes (irigasi tetes), serta pemupukan dan penyiraman sesuai kebutuhan tanah,” ungkapnya saat ditemui tim Banten TV.
Baca Juga: Distan Banten Dongkrak Produktifitas Pertanian Lewat Oplah Non Rawa
Melalui sistem tersebut, lahan seluas 1.000 meter persegi yang biasanya hanya memuat sekitar 2.000 tanaman kini dapat menampung hingga 4.100 populasi cabai.
Pendekatan presisi ini didukung dengan pengujian tanah di laboratorium untuk menentukan kebutuhan hara secara tepat.
“Tanah diuji di laboratorium, lalu datanya diinput ke aplikasi. Keluaran rekomendasi pemupukan N, P, K sesuai kebutuhan hara. Jadi meski rapat, hasilnya tetap optimal,” jelasnya.
Hasil dari metode agronomi tersebut membuat Teguh menetapkan target panen satu ton cabai per 1.000 meter persegi, yang jika dihitung per hektare mencapai 10 ton, lebih tinggi dari rata-rata produktivitas cabai di Banten.
Dengan harga komoditas cabai yang di tingkat petani berada di kisaran Rp 50.000 per kilogram, pencapaian ini tentu memberi nilai ekonomi yang signifikan.
Teguh, yang bukan berasal dari keluarga petani, mengaku terinspirasi dari para tetangganya yang mampu hidup sejahtera dari sektor pertanian. Ia berharap semakin banyak anak muda yang melihat potensi serupa.
“Prinsip kami: tidak ada petani, tidak ada makanan, tidak ada masa depan. Kalau anak muda tidak masuk pertanian, siapa yang menghasilkan makanan? Siapa yang menjaga kehidupan dan masa depan?” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa perhatian pemerintah terhadap sektor pangan sangat dibutuhkan agar minat generasi muda dapat tumbuh.
“Anak muda bukan tidak mau (bertani), hanya belum mengenal pertanian. Di mana ada kehidupan, pertanian dibutuhkan,” tutupnya.
Editor Siti Anisatusshalihah