Serang, Bantentv.com – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Serang melakukan pendataan dan pelatihan terhadap sejumlah Penyuluhan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang kerap beroperasi dilampu merah dan jalanan protokol Kota Serang.
Dalam operasi yang dilakukan pada Jumat 17 April 2026, ditemukan fakta bahwa banyak PMKS di Kota Serang sebagian berasal dari luar daerah dan meraup pendapatan hingga ratusan ribu rupiah per hari.
Kepala Dinas Sosial Kota Serang Kusna Ramdani mengungkapkan bahwa kegagalannya telah mendata sekitar 10 orang PMKS yang terdiri dari badut jalanan, pengemis, hingga manusia silver. Hasil pendataan, sebagian besar berasal dari luar Kota Serang seperti Cikande, Kramat, Ciruas, hingga Pandeglang.
”Data kita ada 10 orang. Ada yang dari Cikande, Kramat, Ciruas, Kasemen, dan Cipocok juga ada. Satu orang asal Pandeglang sudah kami pulangkan karena rumahnya jauh, kami antar langsung,” ujar Kadinsos saat dikonfirmasi, Ahad, 19 April 2026.
Baca Juga: DPRD Banten Dorong Pemprov Banten Gali Potensi Pajak di Pelabuhan Bongkar Muat Barang
Menurut Kusna Ramdani hasil wawancara dilapangan, alasan utama mereka (PMKS) turun ke jalan adalah faktor ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan. Namun Kadinsos tidak menampik adanya unsur perilaku atau kebiasaan karena penghasilan dijalanan dianggap menggiurkan.
”Rata-rata faktor ekonomi, tapi ada juga unsur malasnya. Mereka merasa enak di jalan bisa mendapat Rp50.000, Rp100.000, bahkan sampai Rp200.000 sehari. Kalau kerja formal mungkin tidak sampai segitu per harinya, jadi akhirnya menjadi kebiasaan,” ungkapnya.
Kota Serang menjadi sasaran utama para PMKS karena statusnya sebagai ibu kota provinsi yang memiliki tingkat kepadatan tinggi.
“Kota Serang ini ibarat ‘ada gula ada semut’. Karena ramai, mereka datang ke sini, padahal rata-rata bukan penduduk asli,” Tegas Kusna.
Baca Juga: Dinsos Kabupaten Serang Pastikan Stok Bantuan Aman untuk Antisipasi Bencana
Sembilan PMKS yang terjaring kini dalam pengawasan Dinsos Kota Serang. Setelah diperiksa melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), ternyata sebagian besar dari mereka sebenarnya sudah terdaftar sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah. Sebagai langkah pelatihan jangka panjang, Dinsos berencana memberikan pelatihan keahlian agar mereka tidak kembali ke dunia luar.
”Nanti kami arahkan sesuai minat, ada rencana pelatihan barista (meracik kopi), menjahit, atau tambal ban. Kami akan ikut sertakan dalam program kementerian atau provinsi,” jelas Kusna Ramdani.
Pihak Dinsos juga rutin melakukan sosialisasi setiap hari Jumat untuk mengimbau masyarakat agar tidak memberikan uang kepada PMKS di jalanan. Hal ini dilakukan guna memutus rantai keberadaan PMKS di lampu merah.
”Bukan agama Islam sedekah, tapi silakan salurkan ke tempat yang lebih tepat seperti Baznas, masjid, musala, atau melalui Dinsos yang akan meneruskan ke mustahik. Ini langkah persuasif agar mereka kapok dan tidak kembali lagi ke jalan,” tutupnya.
Himbauan ini merupakan inisiatif Dinsos dan instruksi Wali Kota Serang guna menjaga Keamanan dan kenyamanan di ibu kota Banten tersebut.
Editor : Erina Faiha