Pandeglang, Bantentv.com – Kemeriahan Hari Jadi Kabupaten Pandeglang ke-152 semakin terasa. Alun-alun Pandeglang dipadati masyarakat saat pagelaran seni budaya Wayang Nganjor digelar pada Sabtu malam 4 April 2026.
Pertunjukan tersebut dibawakan dalang muda berbakat, Muhamad Armin atau yang dikenal dengan Aming Ajen. Ia membawakan lakon ‘Babad Banten’, yang mengisahkan sejarah awal masuknya Islam di tanah Banten.
Penampilan tersebut sukses memukau ratusan penonton yang memadati kawasan Alun-alun Pandeglang. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal hingga pertunjukan berakhir.
Baca Juga: Tampil Beda, Diskomsantik Usung Semangat Kolaborasi Digital di Parade HUT Pandeglang
Muhamad Armin mengungkapkan bahwa dirinya telah menggeluti dunia pewayangan sejak usia dini. Kecintaannya terhadap seni tradisional tumbuh sejak usia empat tahun.
“Saya menggeluti dunia pewayangan ini sudah dari usia 4 tahun. Untuk mendalami ilmu, saya belajar di Sanggar Wayang Ajen di Bekasi dan kini bergabung bersama Wayang Nganjor Indonesia,” ujar Armin.
Melalui penampilan, Armin juga membawa misi untuk memperkenalkan seni wayang kepada generasi muda.
“Harapannya semoga anak-anak menyukai wayang, dan untuk para remaja bisa lebih mengenali apa itu wayang dan melestarikan keanekaragaman budaya Indonesia,” tambahnya.
Apresiasi juga datang dari pegiat seni sekaligus Pembina Wayang Nganjor Indonesia, Tirta Nugraha Pratama. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi momentum kebangkitan seni budaya di Pandeglang.
“Sebelum-sebelumnya kegiatan kesenian dan kebudayaan seolah mati. Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dipusatkan di Alun-alun Pandeglang ini,” ujarnya.
Menurut Tirta, dukungan pemerintah daerah sangat penting agar ekosistem seni budaya tetap hidup.
Baca Juga: 30 Tim OPD Ramaikan Turnamen Voli HUT Pandeglang
“Pemerintah diharapkan lebih sering mengadakan acara seni budaya. Jika kegiatan sering ada, pelaku seni akan tetap eksis,” tegasnya.
Perayaan Hari Jadi Kabupaten Pandeglang ke-152 diharapkan menjadi awal kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas seni, dan masyarakat, guna menjaga identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Editor AF Setiawan