Bantentv.com – Harga plastik di sejumlah negara, termasuk Indonesia, belakangan ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku usaha karena berdampak langsung terhadap biaya produksi dan operasional.
Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) menyebut, kenaikan harga plastik dipicu oleh kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mempengaruhi distribusi bahan baku industri petrokimia.
Konflik Timur Tengah Ganggu Pasokan Nafta
Dikutip dari media nasional, Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono menjelaskan bahwa plastik diproduksi dari nafta, yaitu turunan minyak bumi. Sebagian besar pasokan nafta dunia berasal dari kawasan Asia Barat atau Timur Tengah.
Baca Juga: Pedagang Keluhkan Kenaikan Harga Plastik di Pasar Rangkasbitung
Konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran berdampak pada distribusi energi global, termasuk terganggunya jalur strategi pengiriman bahan baku.
“Sekarang akibat perang, Selat Hormuz tertutup sehingga bahan baku berupa nafta yang sekitar 70 persen berasal dari Timur Tengah tidak bisa dikirim ke industri petrokimia,” kata Fajar.
Tidak hanya distribusi yang terganggu, sejumlah fasilitas produksi minyak di Arab Saudi dan negara Teluk juga menimbulkan konflik. Akibatnya, pasokan nafta semakin terbatas.
“Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi hampir di seluruh dunia,” ujar Fajar.
Baca Juga: Indonesia Peringkat Ketiga Penghasil Sampah Plastik di Dunia
Kenaikan Harga Terjadi Bertahap
Meski konflik telah terjadi sejak akhir Februari 2026, kenaikan harga plastik tidak langsung terasa. Pada minggu pertama, pelaku industri masih menyesuaikan produksi dan mengelola stok bahan baku yang tersedia.
Memasuki minggu kedua atau awal Maret 2026, kenaikan mulai terlihat dan berlanjut hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri seiring meningkatnya permintaan pasar.
Fajar sebelumnya juga meramalkan perubahan pola bisnis di industri plastik dan turunannya akan terjadi sekitar 10 hari setelah Lebaran.
“Sekarang kejadian, saat pasar mulai kembali berjalan, permintaan meningkat sementara bahan baku yang selama ini dibeli sudah mengalami perubahan harga,” ujarnya.
Baca Juga: Sungai di Lontar Serang Dipenuhi Tumpukan Sampah Plastik
Industri Bertahan di Tengah Tekanan Biaya
Saat ini, industri plastik nasional berada dalam kondisi bertahan atau survival mode. Produksi ditekan seminimal mungkin agar tetap ekonomis dan menjaga keberlangsungan usaha.
“Jangan sampai masuk ke standby mode. Kalau standby mode, mesin tetap hidup tapi tidak beroperasi. Saat ini kita masih berada di survival mode,” tutur Fajar.
Strategi ini dilakukan agar industri tetap berjalan di tengah tekanan kenaikan biaya produksi akibat terbatasnya bahan baku.
Cari Alternatif Bahan Baku dari Luar Timur Tengah
Untuk mengatasi keterbatasan pasokan, pelaku industri mulai mencari sumber bahan baku alternatif dari luar kawasan Teluk, seperti Asia Tengah, Afrika, hingga Amerika.
Namun, langkah tersebut memiliki tantangan tersendiri. Selain harga yang lebih mahal, waktu pengiriman juga lebih lama, bahkan bisa mencapai 50 hari.
“Harga sekarang bukan lagi prioritas utama, yang penting bahan baku tersedia terlebih dahulu,” kata Fajar.
Selain nafta, industri juga mempertimbangkan penggunaan bahan baku alternatif seperti propana dan kondensat. Meski demikian, masih terdapat kendala terkait izin masuk yang diharapkan dapat dikaji ulang oleh pemerintah.
Pedagang Kecil Ikut Terdampak
Kenaikan harga plastik tidak hanya dirasakan industri besar, tetapi juga pengusaha kecil. Salah satunya Gemi, pedagang bumbu di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang mengaku harga plastik kresek naik hingga Rp6.000 per bungkus.
“Biasanya Rp17.000, sekarang jadi Rp23.000. Hampir semua jenis plastik naik sekitar Rp6.000 per bungkus,” kata Gemi, Sabtu, 28 Maret 2026.
Kondisi ini membuat biaya operasional pedagang meningkat dan margin keuntungan semakin membebani.
Editor : Erina Faiha