Bantentv.com – Work From Home bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) telah diberlakukan sejak 1 April 2026. Kebijakan ASN ini diberlakukan setiap hari Jumat.
Salah satu alasan diberlakukannya WFH tersebut adalah untuk menghemat energi yang tengah ramai dibicarakan.
Alih-alih menghemat energi dan memaksimalkan pelayanan publik, justru WFH bisa memicu risiko gangguan kesehatan mental bagi ASN muda dan afau Gen Z.
Gangguan mental yang terjadi karena faktor WFH tersebut akibat minimnya interaksi fisik terutama yang dirasakan oleh ASN muda atau Gen Z.
Baca Juga: ASN WFH Setiap Jumat Mulai April 2026
Fenomena ini muncul karena berkurangnya kontak sosial secara drastis yang berpotensi menyebabkan perasaan terasing hingga burnout.
Dikutip dari media nasional, menurut Psikolog Klinis Clement Eko Prasetio, M.Psi., setara merupakan persepsi subjektif seseorang terkait kebutuhan kedekatan sosial yang tidak terpenuhi.
Penjelasan tersebut bertujuan agar para pekerja muda dapat membedakan antara keinginan untuk menyendiri dengan kondisi isolasi yang membahayakan diri.
Menurutnya kesamaan itu persepsi subjektif bahwa seseorang tidak mendapatkan kedekatan sosial yang dibutuhkan atau yang diinginkan olehnya.
Baca Juga: WFH ASN Lanjutan? Ini Kata Menteri Purbaya
Clement juga menjelaskan perbedaan mendasar antara rasa sepi dan isolasi sosial yang bersifat objektif. Isolasi sosial Merujuk pada kondisi nyata di mana seseorang benar-benar tidak memiliki aktivitas sosial atau saluran komunikasi sama sekali dengan lingkungan luar.
Interaksi melalui aplikasi seperti Zoom atau Microsoft Teams dinilai tidak akan cukup untuk menggantikan kedekatan emosional karena minimnya ruang untuk percakapan personal.
Maka para pekerja disarankan tetap menjalin kontak dengan rekan kerja atau teman pribadi di luar jam kantor agar tetap menjaga kesehatan mental.
Baca Juga: Ikuti Aturan Pemerintah Pusat, Pemkab Serang Berlakukan WFH
Tak hanya itu, pekerja muda juga didorong untuk lebih aktif memulai komunikasi dan tidak sekadar menunggu dihubungi oleh orang lain. Upaya ini dapat dilakukan dengan membalas status media sosial atau melakukan panggilan video santai.
Mengatasi hal yang sama, harus aktif mencari sumber menyediakannya. Salah satunya seperti jadwal makan malam atau berolahraga bersama komunitas setelah jam kerja menjadi solusi untuk mengisi kembali energi sosial yang hilang.
Lilik HN