Bantentv.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan terkait kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 hingga semester I-2026 serta Outlook hingga akhir tahun.
Hal ini diutarakan Purbaya pada Rapat Kerja Badan Anggaran DPR RI di Jakarta. Dalam laporan tersebut, menunjukkan defisit APBN diperkirakan melebar dari target awal.
Purbaya menyampaikan laporan tersebut disampaikan sebagai bentuk pelaksanaan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara sekaligus wujud akuntabilitas Pemerintah dalam pengelolaan APBN.
Dalam paparannya, Menkeu menjelaskan bahwa APBN Tahun 2026 tetap dirancang untuk menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pelaksanaan delapan agenda prioritas nasional.
Adapun agenda-agenda prioritas itu meliputi penguatan ketahanan pangan, penguatan ketahanan energi, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan kualitas sektor pendidikan, penguatan program layanan kesehatan, pembangunan desa serta pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penguatan sistem pertahanan semesta dan percepatan investasi serta peningkatan perdagangan global.
Meski begitu, APBN tetap menjalankan fungsi strategis sebagai instrumen fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
“APBN tahun 2026 bekerja keras mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan mendukung agenda prioritas pembangunan nasional dengan tetap menjaga tata Kelola keuangan yang sehat, kredibel dan akuntabel.,” ujar Purbaya.
Di tengah global yang mulai mereda namun masih menguraikan berbagai risiko, Purbaya menerangkan, fundamental perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat.
Pada triwulan I Tahun 2026, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen (year-on-year), menjadi pertumbuhan triwulan I tertinggi sejak tahun 2014. Inflasi pada Juni 2026 juga tetap terkendali pada level 3,34 persen (year-on-year).
Di sisi lain, pertumbuhan kredit, likuiditas perekonomian, aliran modal asing yang kembali mencatat net inflow, dan posisi cadangan devisa turut menunjukkan perkembangan yang positif sehingga menopang stabilitas perekonomian nasional.
Baca Juga: APDESI Targetkan 146 Ribu Koperasi Desa di Indonesia, Tanpa APBN dan APBD
Pada Semester I Tahun 2026, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target APBN dan tumbuh 21,4 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp271,0 triliun yang didukung peningkatan aktivitas ekonomi, peningkatan tata kelola perpajakan dan kepabeanan, serta peningkatan kualitas layanan kementerian/lembaga dan Badan Layanan Umum.
Sementara itu, pada realisasi belanja negara mencapai Rp1.656,0 triliun atau 43,1 persen dari pagu APBN dan tumbuh 17,8 persen (yoy) dibandingkan Semester I Tahun 2025.
Dalam APBN 2026 ini, pemerintah memanfaatkan belanja negara untuk mendukung berbagai program prioritas nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis, penyaluran bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, subsidi dan kompensasi, serta transfer ke daerah guna memperkuat pelayanan publik dan pembangunan di daerah.
Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN Semester I Tahun 2026 tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB dan tetap berada dalam batas aman.
“Di tengah gejolak geopolitik dan mempengaruhi global, peran APBN sangat strategis sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas perekonomian dan menjaga daya beli masyarakat, dan kebijakan counter cyclical dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, adil dan merata,” ungkapnya.
Selain itu, Purbaya juga memaparkan Outlook APBN Tahun 2026. Diketahui hingga akhir tahun, APBN diproyeksikan tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mendukung pelaksanaan berbagai program prioritas nasional.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Terus Tumbuh, APBN Tidak Tren Kinerja Positif
Sedangkan pendapatan negara juga diperkirakan mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,7 persen dari target APBN, sedangkan belanja negara diproyeksikan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari pagu APBN.
Dengan perkembangan tersebut, perkiraan defisit APBN diperkirakan sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap PDB, dengan anggaran pembiayaan sebesar Rp734,3 triliun.
Purbaya nasional menegaskan, bahwa APBN akan terus dijaga agar tetap sehat dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pelaksanaan agenda prioritas pembangunan, khususnya Program Makan Bergizi Gratis, Revitalisasi Sekolah, Cek Kesehatan Gratis, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Desa Merah Putih.
Selain itu, pemerintah juga akan terus memperkuat sinergi dan harmonisasi belanja pemerintah pusat dan daerah guna meningkatkan pengelolaan anggaran yang semakin baik dan semakin dirasakan oleh masyarakat.
“APBN tahun 2026 dijaga tetap sehat dan berkesinambungan, dengan anggaran belanja yang efisien, defisit terkendali dalam batas aman sebesar 2,85% PDB untuk menjaga fiskal dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” tutupnya.
Pemerintah bersama Bank Indonesia dan otoritas sektor keuangan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi dan memperdalam pasar keuangan domestik.
Editor Siti Anisatusshalihah