Serang, Bantentv.com – Setidaknya sudah bertahun-tahun seorang warga bernama Andri Irawan di Desa Pasanggrahan, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang telah menekuni pekerjaan sebagai perajin sandal.
Usaha sebagai perajin alas kaki dengan berbahan kulit sapi yang dirintis oleh orangnya sejak 16 tahun silam, kini dilanjutkan oleh anaknya Andri.
Dalam sehari, Andri mampu memproduksi beberapa pasang sandal berbagai jenis ukuran dengan memanfaatkan ruangan dapur di rumahnya.
Andri menjelaskan, sandal-sandal yang ia buat bukan hanya dari bahan kulit sapi, tetapi ada juga dari bahan spons hingga karet dan dalam sebulan mampu menghasilkan sebanyak lima hingga tujuh kodi atau sebanyak 700 pis sandal.
Baca Juga: Meski Terkendala Pemasaran, Perajin Sandal Carenang Tetap Bertahan Produksi
Ia juga menyebut, sandal-sandal yang dibuat dilakukan secara manual, mulai dari menoreh, memotong,mengelem, menjahit hingga finishing agar menghasilkan alas kaki yang layak untuk digunakan.
“Bahan yang kita gunakan utamanya kulit sapi, tapi sekarang juga ada bahan dari spons dan karet,” ungkapnya Sabtu 31 Januari 2026
Andri juga mengaku, dalam sebulan mampu menjual sandal-sandal hasil produksinya sebanyak lima hingga 10 kodi dengan harga mulai dari Rp.700.000 ribu hingga Rp1.500.000 juta tergantung bahan yang digunakan.
“Alhamdulillah sandal-sandal ini kita sudah memiliki brand bernama Liandry. Sementara untuk target target pasar nya kita jualan ke toko-toko mulai dari daerah Serang, Pandeglang hingga lebak,” ujarnya.
Baca Juga: Penyanyi Indonesia yang Pernah Terlibat Kasus Pelanggaran Hak Cipta
Ia kembali mengaku, meski usaha yang tengah ditekuninya ini sebagai perajin sandal sudah berjalan, namun masih ada sedikit terkendala di permodalan.
“Kadang-kadang banyak pesanan tapi kita masih terkendala modal untuk belanja bahannya, jadi pesanan itu gak saya ambil,” ucapnya.
Sementara itu Sekretaris Desa Pasanggrahan Ahmad Sulaeman Hudari mengaku, berkomitmen akan terus mendukung penuh pelaku UMKM yang berada di desanya. Seperti salah satunya produksi sandal Liandry ini yang menjadi ikon di Desa Pasanggrahan.
“Kedepan kita akan berkolaborasi dengan UMKM ini untuk bagaimana bisa lebih meluas lagi terkait produksinya dan bisa membawa baik nama Desa Pasanggrahan,” ungkapnya.
Sulaeman juga mengaku, nanti berencana akan mendorong pelaku UMKM untuk bisa masuk ke gerai-gerai kopdes atau BUMDes.
“Kita akan fasilitasi para pelaku UMKM ini agar bisa masuk gerai-gerai kopdes, hingga membantu permodalan melalui BUMDes di Desa Pasanggrahan,” tuturnya
Ia juga berharap para pelaku UMKM di desanya bisa terus berkembang dan dapat meningkatkan taraf perekonomian.
Editor : Erina Faiha