Bantentv.com – World Economic Forum (WEF) memperkirakan pengurangan emisi berpotensi menjadi risiko terbesar bagi perekonomian Indonesia pada periode 2026–2028. Risiko ini dinilai sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional yang agresif.
Peringatan tersebut tertuang dalam Global Risks Report 2026 yang dirilis WEF pekan ini. Laporan itu melibatkan lebih dari 11 ribu pemimpin bisnis di 116 negara untuk penanda prioritas risiko ekonomi masing-masing negara.
Berdasarkan Survei Opini Eksekutif 2025, para pemimpin bisnis menempatkan peluang ekonomi yang kurang atau penurunan sebagai ancaman utama bagi Indonesia dalam tiga tahun ke depan.
Indonesia tercatat sebagai satu dari 27 negara yang menempatkan risiko tersebut pada posisi teratas.
Baca Juga: IMF Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1 Persen pada tahun 2026, Tantangan Global Mengintai
WEF menilai melemahnya prospek kerja tidak hanya berdampak pada kinerja ekonomi. Kondisi ini juga berpotensi memicu permasalahan sosial dan politik di dalam negeri.
“Kurangnya peluang ekonomi atau kemiskinan dapat mendorong ekstremisme, menurunkan kepercayaan terhadap institusi, serta meningkatkan dampak misinformasi dan disinformasi,” tulis WEF dalam laporan tersebut.
Keterbatasan peluang ekonomi mencerminkan permasalahan di pasar tenaga kerja.
WEF mencatat adanya stagnasi upah, meningkat dan setengah pengangguran, serta melemahnya perlindungan hak pekerja.
Risiko tersebut diperparah oleh perubahan tenaga kerja akibat otomatisasi dan transisi hijau.
Selain itu, terbatasnya mobilitas sosial serta ketimpangan akses pendidikan dan teknologi turut memperbesar tekanan pasar kerja.
Selain kegelapan, WEF mencatat risiko layanan publik dan perlindungan sosial yang tidak memadai berada di peringkat kedua. Dampak negatif teknologi kecerdasan buatan atau AI menempati posisi ketiga.
Sementara itu, risiko penurunan ekonomi dan inflasi masing-masing berada pada peringkat keempat dan kelima.
Kondisi tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan ketahanan pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Editor AF Setiawan