Bantentv.com – Tidak sedikit orang yang memilih merantau bahkan jauh dari orang tua. Hal tersebut lumrah terjadi karena adanya hasrat atau keinginan untuk menggapai suatu tujuan dan cita-cita.
Namun tidak sedikit pula orang tua yang mulai bertanya-tanya mengapa anaknya ketika memilih merantau, setelahnya jarang bercerita? Tak hanya itu isi percakapan yang sebelumnya salah dilontarkan pun jarang didengar oleh orang tua.
Bukan sekedar jauh, namun tentang kondisi tertentu pun orang tua menjadi tidak tahu karena jarangnya komunikasi atau cerita dari anaknya tersebut.
Fenomena ini seringkali memunculkan kekhawatiran emosional. Sebagian besar orang mengalaminya dengan perubahan sikap, jarak batin, bahkan rasa tidak dapat dipercaya. ini menjadi kekhawatiran baru bagi orang tua.
Padahal, psikologi melihat kebiasaan yang jarang terjadi pada orang tua pada usia dewasa itu adalah bagian dari pola yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kedekatan atau bukannya hubungan keluarga.
Dalam banyak kasus, orang dewasa yang tidak terbiasa menceritakan beban hidup kepada orang tua justru bukan karena hubungan yang buruk, namun menunjukkan bahwa perilaku ini sering berkaitan dengan kemandirian emosional, empati terhadap kondisi orang tua, serta cara seseorang belajar memproses tekanan hidup secara mandiri.
Dapat diartikan bahwa diam tidak selalu berarti menjauh. Jarang bercerita tidak otomatis menandakan renggangnya hubungan keluarga.
Pola Batin Orang Dewasa yang Enggan Bercerita:
- Terbiasa Menjadi Sosok yang Mandiri Secara Emosional
Banyak orang dewasa yang jarang tumbuh dengan kebiasaan mengelola masalah dirinya sendiri. Mereka telah belajar menenangkan diri, mencari solusi, dan bertanggung jawab atas emosi tanpa banyak bergantung pada orang lain.
- Tak Ingin Membebani Pikiran Orang Tuanya
Alasan yang kuat adalah empati terhadap kondisi orang tua. Anak-anak yang sudah cukup dewasa memiliki kekhawatiran jika cerita tentang kegagalan, tekanan kerja, atau masalah pribadi justru akan menambah beban emosional orang tua mereka.
- Sedang Menjalani Proses Pendewasaan Psikologis
Memasuki fase dewasa, banyak individu merasa perlu membangun identitas yang mandiri, termasuk dalam mengelola emosi. Curhat kepada orang tua terkadang dipersepsikan, secara tidak sadar, sebagai bentuk ketergantungan yang ingin mereka kurangi.
- Pengalaman Komunikasi yang Tidak Selalu Nyaman
Sebagian besar orang berhenti bercerita karena pengalaman masa lalu: misalnya saja respons yang terlalu menggurui, dibandingkan dengan orang lain, atau solusi yang datang terlalu cepat.
- Lebih Nyaman Memproses Emosi Secara Internal
Mereka lebih terbiasa berpikir, menulis, atau berpikir panjang sebelum memahami emosinya sendiri.
- Kedekatan Tidak Selalu Diekspresikan Melalui Cerita
Hubungan psikologis ketegangan bahwa kedekatan tidak selalu diukur dari seberapa banyak cerita yang diumumkan. Ada yang menyampaikan kasih sayang melalui tindakan: memastikan orang tua aman, membantu secara praktis, atau hadir saat dibutuhkan.
- Diam Menjadi Masalah Jika Berubah Menjadi Isolasi
Psikologi tidak menganggap jarang curhat sebagai masalah selama individu tetap memiliki saluran emosi yang sehat, baik melalui pasangan, sahabat, maupun refleksi diri yang adaptif.
Baca Juga: Sering Habiskan Waktu di Rumah, Ini Ciri Kepribadiannya Menurut Psikologi
Yang perlu diwaspadai adalah ketika diam berubah menjadi penarikan diri total dan menutup semua akses dukungan emosional terhadap banyak hal.
Perlu dicatat dan dipahami bahwa orang dewasa yang jarang curhat kepada orang tua bukan berarti tidak peduli, apalagi durhaka.
Dalam banyak kasus, pola ini justru tumbuh dari kemandirian emosional, empati, dan cara seseorang memaknai tanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Editor Lilik HN