Bantentv.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan tidak ada lagi kematian akibat DBD atau demam berdarah dengue di Indonesia pada tahun 2030.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pencegahan, deteksi dini, hingga penanganan pasien agar angka kematian akibat DBD dapat ditekan semaksimal mungkin.
Berdasarkan data Kemenkes, Indonesia menempati peringkat kedua dunia setelah Brasil dalam jumlah kematian akibat DBD. Sementara di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara dengan beban penyakit demam berdarah nomor satu.
Pada tahun 2025, sekitar 17 persen dari total kematian akibat DBD di dunia tercatat berasal dari Indonesia.
Meski demikian, Kemenkes menegaskan bahwa sebagian besar kematian akibat penyakit ini sebenarnya dapat dicegah apabila pasien mendapatkan diagnosis lebih awal dan penanganan yang tepat, terutama saat memasuki fase kritis penyakit.
Baca Juga: Cegah DBD, Puskesmas Citangkil 1 Tebar Ikan Pemakan Jentik ke Bak Mandi Warga
Tiga Strategi Menuju Nol Kematian DBD
Untuk mencapai target nol kematian pada tahun 2030, Kemenkes menjalankan pengendalian DBD melalui tiga strategi utama, yakni intervensi lingkungan, pengendalian nyamuk, dan perlindungan terhadap manusia.
- Intervensi Lingkungan
Upaya pertama dilakukan dengan memperbaiki lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Langkah yang dilakukan antara lain mendorong pembangunan sistem perpipaan udara, menguras serta mendaur ulang wadah penampungan udara melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), hingga memperkuat Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).
- Intervensi pada Nyamuk
Kemenkes juga terus melakukan berbagai upaya pengendalian populasi nyamuk melalui larvasidasi, pengasapan (fogging), penyemprotan mandiri, hingga penerapan teknologi nyamuk Wolbachia yang saat ini telah diimplementasikan di lima kota di Indonesia.
- Intervensi pada Manusia
Selain pengendalian lingkungan dan vektor penyakit, Kemenkes mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui program Komunikasi untuk Dampak Perilaku (KOMBI). Di sisi lain, pemberitaan demam berdarah juga terus berlanjut dan kini telah dijalankan oleh pemerintah daerah di 11 kota.
Kenali Tanda Bahaya DBD
Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan apabila muncul tanda-tanda bahaya DBD, antara lain:
- Muntah terus-menerus lebih dari tiga kali dalam 12 jam.
- Terjadi pendarahan pada mukosa, seperti mimisan atau gusi berdarah.
- Nyeri perut yang hebat.
- Tangan dan kaki terasa dingin.
- Frekuensi buang air kecil berkurang dari biasanya.
- Mengalami kejang atau penurunan kesadaran.
Dengan mengenali gejala sejak dini, melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin, serta segera memeriksakan diri ketika muncul tanda bahaya, diharapkan angka kematian akibat DBD dapat terus ditekan sehingga target nol kematian pada tahun 2030 dapat tercapai.
Editor Siti Anisatusshalihah