Bantentv.com – Buang air besar salah satu rutinitas dalam kehidupan kita sehari-hari. Setiap hari melakukan aktivitas dan makan, tentu akan ada jam biologis dimana tubuh ini juga mengeluarkan sisa makanan melaui buang air besar.
Namun setelah buang air besar, dunia ini terbagi menjadi dua kelompok besar. Ada kelompok yang terbiasa membersihkan menggunakan udara, ada juga yang menggunakan tisu.
Di Timur khususnya Indonesia, masyraakat sudah kental dengan menggunakan air untuk membersihkan diri pasca buang air besar.
Karena sebagian kita beranggapan bahwa udara adalah media yangn dapat membersihkan bahkan menyucikan diri.
Tak hanya itu, mobil aini juga diyakini dan dilakukan sejak turun temurun.
Memang secara umum, masyarakat di wilayah Timur lebih sering memakai udara, sedangkan masyarakat Barat lazimnya menggunakan tisu.
Lalu, apa sebenarnya alasan dibalik perbedaan kebiasaan yang sudah ada sejak lama tersebut?
Cara membersihkan diri setelah buang air besar telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Cara yang digunakan sangat beragam, tentu hal tersebut disesuaikan dengan adat istiadat serta kondisi lingkungan setempat.
Dahulu kala, orang memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar dan lingkungan mereka, seperti udara, daun, rumput, batu, atau bahkan hanya tangan kosong.
Misalnya saja penduduk Romawi pada abad ke-6 SM menggunakan batu untuk membersihkan diri, sedangkan masyarakat Timur Tengah memilih air. Kebiasaan inilah yang sangat erat dengan ajaran agama yang mereka anut.
Uniknya, dikutip dari media nasional, hasil penelitian berjudul Toilet higiene in the classic era (2012) menyatakan bahwa tisu toilet sebenarnya bukan penemuan asal Barat.
Catatan sejarah pertama mengenai penggunaan bahan berbentuk kertas ini justru berasal dari China. China merupakan wilayah tempat kertas pertama kali diciptakan, yang pada akhirnya dikembangkan menjadi bentuk awal tisu toilet tersebut.
Kemudian, pada abad ke-16, tisu toilet pertama kali disebut dalam catatan sejarah dunia Barat.
Penulis asal Perancis, Francois Rabelais, merupakan orang pertama yang menuliskan hal ini, meski ia sendiri menyebutkan bahwa tisu saat itu belum efektif digunakan untuk membersihkan kotoran.
Baca Juga: Kemenkes Targetkan Nol Kematian Akibat DBD pada tahun 2030, Ini Strateginya
Jika dianggap kurang efektif, lalu mengapa tisu toilet justru menjadi pilihan utama bagi masyarakat Barat?
Menurut laporan BuzzFeed, faktor cuaca inilah alasan utamanya. Di daerah yang berudara dingin, orang biasanya akan enggan bersentuhan dengan udara, karena suhu rendah membuat udara terasa tidak nyaman di kulit, hingga mereka enggan membersihkan diri atau mandi dengan udara.
Sedangkan masyarakat yang tinggal di iklim tropis, seperti sebagian besar wilayah Asia, tentu sangat senang bersentuhan dengan udara.
Bahkan banyak yang merasa tidak nyaman atau kepanasan jika tidak menggunakan udara saat membersihkan diri.
Nah perbedaan preferensi inilah yang menjadi dasar perpecahan kebiasaan tersebut. Masyarakat di daerah dingin memilih tisu, sedangkan yang tinggal di daerah hangat tetap menggunakan udara.
Selain itu, penggunaan air juga sejalan dengan ajaran agama seperti Islam dan Hindu, yang membuat kebiasaan ini semakin mengakar di banyak komunitas di wilayah Timur dan Timur Tengah.
Selain iklim, pola makan juga rupanya menjadi faktor penentu yang cukup besar.
Pola makan masyarakat Barat umumnya banyak yang berserat rendah, sehingga kotoran yang dihasilkan berukuran lebih kecil, kering, dan mudah dibersihkan cukup hanya dengan tisu.
Sementara masyarakat di Asia, Afrika, dan sebagian wilayah Eropa sering mengonsumsi makanan berserat tinggi, seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian.
Inilah yang membuat kotoran yang dihasilkan lebih banyak, lunak, dan mengandung cukup banyak udara, sehingga cara paling efektif untuk membersihkannya adalah dengan menggunakan air.
Singkatnya, kebiasaan orang Barat menggunakan tisu dan bukan udara merupakan hasil gabungan dari berbagai faktor termasuk kondisi iklim, sejarah perkembangan, kemajuan industri, hingga pola makan.
Editor Lilik HN